Apakah  anda  seorang  anak?  Apakah anda  pun juga  seorang  aktivis  islam  yang mengemban da’wah islam?  Sudah berapa manusiakah  yang  tertunjuki  Islam  dimana  anda  sebagai  perantaranya?   Mungkin  ketiga  pertanyaan  ini  mampu anda jawab  dengan mantap.  Tetapi  tidak  demikian  ketika  yang  ditanya  adalah  tanggapan orang-orang  terdekat  terhadap aktivitas  da’wah  yang  anda  jalani.  Termasuk  orangtua.  Jawabannya  bisa  jadi  mengiris  hati,  ada  yang  orangtuanya  acuh tak acuh, ada  yang orangtuanya cukup  demokratis  dengan  memberikan  kebebasan  pilihan kepada  sang  anak namun  menolak  untuk  diajak  ber islam  secara  kaffah  , bahkan  ada  yang  menolak  secara  keras.  Walaupun  ada  yang  menanggapi  dengan  syukur  Alhamdulillah  karena  berhasil  menda’wahkan  ide  Islam  yang ia  yakini  kepada  orangtuanya.  Masalahnya,  kenyataan  yang  seperti  itu  sedikit  sekali.  Nah,  anda  di  range  yang  mana?

Diakui  atau  tidak,  kenyataan  ini  banyak  terjadi,  dan   miris  sekali.  Pernah  saya  mendapati  seorang  aktivis  Islam  yang  amat  disegani  di kampus, pun  dengan  saudara-saudaranya  kandungnya.  Anak-anaknya  berhijab dengan  sangat  sempurna (menggunakan  jilbab  dan kerudung),  namun  tidak  ibunya  yang  bahkan  bisa  dikatakan  ‘sekedar’  menutup  aurat  saja.  Fakta  yang  bertolak belakang inilah  yang  wajib  kita  istighfar-i. Saya  haqqul  yakin  bahwa  aktivis Islam  yang  mengemban  da’wah  Islam pasti  mengetahui hukum  wajibnya   berda’wah  terhadap  keluarga,  termasuk  orangtua.  Karena  akan sangat  lucu  ketika  sang  aktivis  terkenal  sholeh/sholehah  dan kerap  mengisi  pengajian   dimana-mana, namun  apa  yang  disampaikan  da’i/dai’yah  ini  kepada  umat  tidak  tergambar  sedikitpun  kepada  keluarganya.

Tidak diragukan lagi, bahwa orang tua dan keluarga dekat termasuk di dalam golongan orang-orang yang diisyaratkan oleh lah untuk di da’wahi .

Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat. (QS. asy-Syu’aro’ [26]: 214)

Da’wah anak kepada orang tua merupakan faktor pemicu semangat da’wah si anak kepada orang lain. Da’wah kepada orang tua akan menghilangkan prasangka buruk terhadap pribadi seorang da’i. Orang lain tidak akan berkomentar mengapa si da’i tersebut menda’wahi orang lain sementara dia tidak menda’wahi orang tuanya. Di antara hikmah yang didapat dari da’wah Nabi Ibrahim kepada bapaknya adalah agar menjadi hujjah bagi kaumnya, sehingga mereka tidak berkata: “Mengapa dia meninggalkan orang-orang dekatnya dan justru mendakwahi kita? Bukankah seharusnya dia tidak membedakan orang yang dekat dan yang jauh seandainya yang dikatakan adalah kebaikan.”

Sepertinya, ini adalah rahasia mengapa Rasulullah diperintahkan untuk mengingatkan keluarga dekat sebelum orang lain. Beliau lakukan dengan terang-terangan, beliau kumpulkan mereka, beliau peringatkan mereka dari siksa Allah, dan lain-lain. “Wahai pamanku! Ucapkanlah ‘Laa Ilaha Illalloh’, suatu kalimat yang aku persaksikan dengan kalimat itu atasmu di hadapan Alloh.” (HR. Bukhari)

Beberapa hal yang mesti dilakukan oleh seorang anak ketika mendakwahi kedua orang tuanya adalah dengan menjelaskan hukum suatu perbuatan dan menasihati keduanya. Dengan kata lain, memberi tahu kepada orang tua agar mengerjakan kewajiban yang ditinggalkan dan meninggalkan segala keharaman yang masih dilakukan. Dan upaya menasihati ini hendaklah dilakukan dengan penuh kelembutan dan tidak emosional. Berikut ini beberapa keterangan yang menjelaskan perkara tersebut:

1. Dasar dalam berda’wah kepada manusia secara umum adalah dengan lemah lembut dan tidak menempuh jalan kekerasan kecuali dalam kondisi-kondisi tertentu. Jika hal tersebut berlaku untuk manusia secara umum maka lebih utama lagi kepada kedua orang tua karena besarnya hak mereka terhadap si anak (lihat QS. al-Isra’ [17]: 23–24, Luqman [31]: 14–15).

2. Allah menjadikan Nabi Ibrahim sebagai uswatun hasanah (suri teladan) bagi kita dan di dalam al-Qur’an disebut secara khusus dua ayat dengan kata-kata uswatun hasanah, yaitu terhadap Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad, karena kedekatan dan kesamaan apa yang dibawa oleh kedua nabi dan rasul tersebut. Kepada bapaknya, Nabi Ibrahim berda’wah dengan penuh kelembutan, santun, dan rasa sayang. Padahal, orang tua beliau dalam keadaan kafir, seperti yang digambarkan oleh Allah dalam firman-Nya (artinya):

Ceritakanlah (wahai Nabi Muhammad) kisah Ibrohim di dalam al-Kitab (al-Qur’an) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang nabi. Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya: “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun? Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah setan. Sesungguhnya setan itu durhaka kepada Robb yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa adzab dari Robb yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi setan.” Berkata bapaknya: “Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrohim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama.” Berkata Ibrohim: “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Robbku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.” (QS. Maryam [19]: 41–47)

3. Kelemahlembutan Nabi Ibrahim dalam mengajak bapaknya dapat kita temukan dalam beberapa segi:
Beliau menyapa bapaknya dengan kata-kata “hai bapakku” untuk menggambarkan hubungan dekat antara anak dengan bapak (lihat QS. Maryam: 42–44).

  • Beliau mengajak bapaknya untuk mengevaluasi kembali perbuatannya yaitu mengapa dia menyembah sesuatu yang tidak dapat mendengar, tidak melihat, dan tidak memberi manfaat sedikitpun (lihat QS. Maryam [19]: 42).
  • Beliau sama sekali tidak menuduh bapaknya dengan kata “bodoh” dan sekaligus tidak mengklaim dirinya sebagai yang paling pintar. Beliau tetap santun dalam menjelaskan kepada bapaknya (lihat QS. Maryam [19]: 43)
  • Beliau mengingatkan bahwa berpalingnya bapak beliau dari beribadah kepada Allah tidak lain karena menuruti setan (lihat QS. Maryam [19]: 44).
  • Beliau sama sekali tidak mengatakan bahwa bapaknya pasti akan ditimpa adzab, bahkan beliau menegurnya dengan penuh santun, beliau khawatir jangan-jangan bapaknya akan ditimpa adzab dari Allah yang Maha Pengasih (lihat QS. Maryam [19]: 45).

Nabi Muhammad juga demikian ketika beliau mengajak kepada kedua pamannya yaitu Abu Tholib dan Abbas. Beliau berkata kepada keduanya dengan penuh kelembutan.
Kepada Abbas beliau berkata:

“Janganlah engkau mengharapkan kematian, wahai paman Rasulullah!” (HR. Ahmad dan Abu Ya’la)
Beliau memulai dengan kata-kata “wahai pamanku” untuk menunjukkan kedekatan dan kecintaan beliau kepada keduanya.

Demikianlah, semoga  Allah  memperkenankan  kita  dan  orangtua  kita  senantiasa  bersama-sama  dalam  kebaikan.  Berdoalah  selalu, karena  doa  adalah  senjata  bagi  orang  mukmin.  Berdoa  agar Allah  senantiasa  memberikan kelembutan  dan kebeningan  hati kepada orangtua kita untuk  menangkap  kebenaran  dari Allah  yang  disampaikan  oleh  sang  anak  tercinta.  Ya Allah ya mujibassailin…

Wallahu’alam bi shawwab

Nurina Purnama Sari