Sekali-sekali, marilah kita bernostalgia, mengingat kembali momen  beberapa bulan yang lalu atau beberapa tahun yang lalu,  saat  ada  seorang lelaki  meminta  kita  kepada wali. Ketika ada seorang lelaki yang sebelumnya  asing dalam hidup, kini mengikat  kita   menjadi pasangan sejati untuk menghabiskan  separuh perjuangan hakiki.   Ikatan  itu, pernikahan  namanya.  Sungguh ini bukan perjanjian biasa,  mitsaaqan ghaliza, itulah yang  mengikat kita. Perjanjian yang kuat. Yang  disaksikan oleh Allah dan para malaikat.

Barakallahum fikum, semoga Allah menghimpun kalian dalam keberkahan, begitu doa-doa  dari sanak keluarga dan handai taulan kita terima.  Selang waktu berlalu, kita mengisi  hidupnya kini, dan- insyaAllah-  sampai nanti.  Status sebagai istri dan suami kini telah nyata disandang.  Ah sayang, sungguh ternyata  tidak mudah  menjadi  seorang  istri.   Melepas suami  di pagi hari  untuk meraih ridho Illahi, dan  menantinya  dengan  harap-harap cemas  selepas  isya, setiap hari, dan selalu begini.

Tidak sekali dua kali rasanya rindu menerpa. Ingin  rasanya  bersama suami selalu, setiap waktu.  Menghitung hari, hingga  tibalah sabtu  dan minggu.  Waktu  yang  sang istri tunggu-tunggu.Karena   saatnya  menghabiskan waktu bersama berdua  suami  Tapi  lagi-lagi sang istri harus menelan  ludah, menanggalkan ego pribadi.  Karena sedari awal ia menyadari, bahwa  lelaki  yang  menjadi qowwamnya  kini, bukan hanya berstatus sebagai seorang suami.  Namun  juga sebagai  seorang da’i. Ada orang lain yang telah menanti suami , kumpulan manusia –manusia  taat  yang  tidak  bisa memulai majelis  ilmu tanpa kehadirannya.Di lain tempat,  kumpulan  wajah-wajah pejuang  juga menantinya  dalam syura’  demi  keberlangsungan  da’wah.

Kalau  sudah begini, rasanya  sang istri  ‘sulit-sulit taat’.  Mendung  terlanjur terbit menyergap.  Tapi  apakah harus berlama-lama? Tentu  tidak.  karena  jangan sampai  perasaan  ‘tidak rela’  ditinggal suami untuk kepentingan da’wah  justru  menjadikan  hijab tidak sampainya   ridho Allah kepada sang istri.  Ketika  sedari awal  suami dan istri berazzam  untuk menikah  di jalan da’wah,  berarti  mereka  harus  siap memahkotai  cinta  dengan iman  diatasnya.

Belajarlah  dari  ibunda Hajar,  ketika  ia  harus  rela  ditinggalkan suaminya, Ibrahim a.s, dalam keadaan lelah menggendong  Ismail, bayi yang masih merah itu.  Ditinggalkan  di tengah  padang  pasir  nan gersang  tanpa  kawan , tanpa tumbuhan, tanpa  perbekalan.  Tentu kita bisa  bayangkan, sangat manusiawi  jika ibunda Hajar  tak terima  ditinggalkan  begitu saja  oleh suaminya.  Atau  bayangkan jika syaithan  membubuhkan  cemburu  padanya, bisa  saja  beliau  berkata, “Oh, jadi karena  ini  kau tinggalkan kami disini. Karena Sarah yang mandul dan cemburu padaku, kau sia-siakan kami di tengah gurun tak berpenghuni  sementara kau bersenang-senang dengan istrimu yang lain?!.”  Selesai. Habis  perkara.

Tapi Al’quran  mengabdikan  sejarahnya  tidak demikian. Tentu saja  ibunda Hajar  jauh dari  akhlak semacam  itu. Justru   reaksi beliaulah yang menyejarah  menjadi proklamasi iman sepanjang masa. “ Kalau  ini perintah Allah-ujarnya gerimis-,  sekali-kali  Dia tak kan pernah  menyia-nyiakan kami.”  Subhanallah,…

Tak  cukup  rasanya  belajar  dari  seorang Ibunda Hajar.  , -ahh,, beliau  kan istri nabi.  Wajar jika  ditempa ujian iman sekualitas nabi -.   Mungkin  itulah yang terbersit di benak setiap istri  ketika membaca kisah ini.  Tapi  bisakah kita  saksikan  ‘kerelaan’ istri yang lain, seorang istri  yang namanya  tidak  tercatat  oleh  Alqur’an.  Namanya  juga tidak banyak disebutkan, bahkan tidak banyak diketahui dalam  riwayat-riwayat  perjuangan, kecuali nama  sang suami, Hanzhalah. Sepasang  suami istri  yang baru  beberapa jam lalu  berwalimah.  Namun, panggilan jihad  di malam pertama  mereka  begitu menyentak.   Seperti  yang banyak diketahui, singkatnya  Hanzhalah  melalui  malam  pertamanya  dengan gemilang,  sukses  membersamai  istri , sekaligus  menjemput syahid  dengan bertemankan  bidadari.  Malaikatlah yang memandikannya untuk bertemu  dengan  sang bidadari bermata jeli, karena  ia belum sempat  mandi junub  selepas  membersamai  sang istri.

Nah, andaikan  saja, di malam  pernikahan  mereka tersebut, sang  istri  merajuk,” Kakanda  sayang, ini kan  malam pertama  kita. Pasti Allah dan RasulNya  bisa memaklumi  dan memberimu  dispensasi, bukankah  menghabiskan malam bersama  istri  juga ibadah? bukankah  dalam fiqh hak seorang perawan adalah tujuh hari dan tidak boleh ditinggal? .” Coba lihat,  betapa dahsyat  kekuatan kalimat ini.  Sangat  wajar, sangat pantas, dan sangat  manusiawi.   Apa yang dilakukan  Hanzhalah dan  sang  istri  bukanlah  hal mudah.  Tentu  sulit  bagi seorang Hanzhalah meninggalkan   wanita  cantik itu  di saat ia baru pertama  kali menyentuhnya.    Dan  tentu  berat bagi  istri Hanzhalah,  melepas  suaminya yang kadung sehari dinikahi  untuk meregang  nyawa  di medan laga.

Ah, mereka berdua, sosok istri  yang teladannya bagai  mutiara.  Seandainya  ibunda Hajar  gagal  memahkotai cinta pada  suaminya  dengan Iman, tentu  sekarang kita tak akan mengenal  zamzam, tentu  tak ada  sa’i  antara  bukit  Shafa dan Marwa,dan  tentu tak  akan ada  lempar  jumrah.  Subhanallah…

Dan  seandainya  saja,   istri Hanzhalah gagal  memahkotai cinta pada suaminya  dengan Iman, tentu  ceritanya  akan berbeda  versi.  Tidak akan menyejarah.  Tidak akan ada  kisah malaikat  memandikan jenazah manusia. Subhanallah…

Nah, para  istri, jika  rindu  itu menyergap, sehingga  ‘berbagi  waktu’ nya  suami  yang seharusnya remeh justru menjadi hal berat, maka kembalilah ke azzam awal kita menikah.  Yaitu, kesungguhan  untuk mengemban misi hidup,  memprioritaskan setiap kewajiban  dari Allah. Baik kewajiban terhadap pasangan, terhadap anak-anak, terhadap umat, maupun terhadap Allah.  Seorang istri  idealnya  memberi semangat  agar seluruh kewajiban suami tertunaikan.  Tak  patut jika  suami  memanjakan  sang istri  demi menyenangkan  hatinya  hingga  mengabaikan  sejumlah prioritas penghambaannya  kepada Allah.  Seperti  dalam da’wah misalnya.

Justru seorang istri  berupaya  untuk meramu  potensi  bersama sebagai bagian  dari  umat  terbaik.  Potensi  dua  sosok  manusia  yang Allah persatukan  dalam taqwa, yang  tidak  rela membiarkan  kemampuan  diri  dan  suaminya  stagnan.  Seorang  istri  yang memahkotai  cinta pada suaminya dengan iman, senantiasa  memberikan  spirit  agar  dirinya  dan suami  makin  meningkat kompetensinya. Serta makin  besar  kontribusinya  bagi kebangkitan Umat.

Ya, inilah menikah di jalan da’wah.  Menikah di jalan ini berarti  menggenapkan separuh agama,  bukan sekedar  peresmian  tinggal  satu atap.   Suami  adalah pasangan  yang menjadi  ‘reminder’  istri  kepada Allah. Senantiasa  mengingatkan  untuk terus  kuat  dan istiqomah  mengarungi  jalan ketaatan. Singkatnya, suami  adalah separuh agama, penjaga ketaatan kita.  Karena dunia  yang kita arungi  bersama,  hanyalah terminal penghentian.  Sementara saja.  Selaksa  kebahagiaan  bersama  suami  didunia  yang dikorbankan  di jalan Allah,  pasti akan  berbalas  di mihrab cinta.