Iqra’bismirabbikal-ladzi Khalaq. Setidaknya  ada  tiga hal  yang  perlu kita berikan kepada anak kita  saat mereka  mulai bisa kita ajak bicara  , sebagai pondasi bangunan kepribadiannya adalah keyakinannya kepada keberadaan Allah berikut sifat-sifat-Nya agar terbentuk kesadaran akan hubungannya dengan Allah, dan apa konsekuensinya. Tentu dengan tahapan pendidikan yang sesuai dengan usianya.  Menunjukkan dan membuktikan bahwa Allah ada, beserta sifat-sifat yang melekat pada-Nya kepada seorang anak balita bisa dilakukan melalui wasilah dan metode apa saja. Pada prinsipnya, mengenalkan Allah pada anak adalah membuat mereka percaya dan meyakini bahwa Allah adalah sumber dari segala sesuatu. Allah adalah sumber dari keberadaan ’apa saja’ yang mereka lihat, mereka rasakan, mereka kenal dan apa saja yang bisa mereka ketahui. Allah memiliki ’kehebatan’ dan kekuatan yang tidak dimiliki oleh makhluk manapun, dan sebaliknya Dia tidak memiliki sifat-sifat lemah apapun sebagaimana yang bisa dijumpai anak pada makhluk ciptaan Allah.

Pertama,  memperkenalkan Allah  kepada  anak melalui sifatNya  yang pertama kali  dikenalkan, yakni Al-Khaliq (Maha  Pencipta).  Kita tunjukkan  kepada  anak-anak kita  bahwa  ke manapun  kita menghadapkan  wajah kita, disitulah  kita  menemukan ciptaan Allah. Dengan  menumbuhkan  kesadaran  dan kepekaan kepada  mereka, bahwa  segala  sesuau yang ada disekelilingnya  adalah ciptaan Allah.  Semoga dengan demikian, sang anak merasa  kagum, sehingga tergerak  untuk  tunduk kepadanya.

Kedua, kita ajak anak mengenali dirinya  dan mensyukuri  nikmat  yang  melekat  pada anggota  badannya.  Dari  sini  mereka  menyadari bahwa  Allah lah yang menciptakan  itu  semua.  Perlahan-lahan kita rangsang  mereka  untuk  menemukan  amanah  dibalik kesempurnaan  penciptaan anggota badannya.  Misalnya,  “Mana  matanya?Subhanallah, matanya  ada  dua  ya.  Berbinar-binar.  Alhamdulillah,  Allah ciptakan  mata  yang  bagus  untuk Fatim.  Matanya  buat  apa,Nak? Ooo,untuk mensyukuri  nikmat Allah  ya.. “    hal  ini bisa dilakukan bahkan  jauh sebelum anak mulai bisa  berbicara,  tujuannya  tak lain  untuk menumbuhkan  kesadaran –bukan pengetahuan-bahwa  ia  ciptaan Allah, karena  itu  harus  menggunakan hidupnya untuk Allah.

Ketiga, memberikan sentuhan  kepada anak  tentang  sifat kedua  yang pertama kali  diperkenalkan Allah kepada kita, yakni Al-Karim. Didalam sifat ini berhimpun dua keagungan, yakni kemuliaan dan kepemurahan.  Kita  asah  kepekaan anak  untuk menangkap tanda-tanda  kemuliaan  dan sifat pemurah Allah dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tumbuh kecintaan dan pengharapan hanya kepada Allah semata.  Ketika anak sakit, sembari memberinya obat kita sampaikan, ”Dikasih Ummi obat ya, nanti disembuhkan Allah”. Ketika anak di tinggal sendiri, sambil pamit kita sampaikan ”Fatim dijaga Allah ya”. Ketika anak meminta orangtua membelikan sesuatu untuknya, orangtua menjawab dengan mengatakan ”Insya Allah kalau nanti ada rezeki dari Allah, abi/umi belikan ya…” dan seterusnya. Hingga membuat anak terbiasa mengetahui bahwa Sang Penyembuh adalah Allah, Sang Penjaga adalah Allah, Sang Pemberi Rezeki adalah Allah, dan seterusnya. Kelak dia pun terbiasa menjadikan informasi tersebut dalam amal kesehariannya. Ketika merasa demamnya mulai turun setelah minum obat, dia mengatakan ”Umi,Fatim sebentar lagi mau sembuh, disembuhkan Allah”. Ketika mempersilahkan orangtua pergi (sebentar) tanpa dia ikut, dia bilang ”Fatim tunggu di rumah saja, ga papa, Fatim dijaga Allah”. Atau ketika dia bercerita dengan temannya tentang mainan yang ingin dia beli, dia mengatakan ”Besok-besok kalau ada rezeki dari Allah Fatim mau beli yang kayak gini…”

Wallahua a’lam bish-shawab.