Bagi orangtua  muslim, sudah  selayaknya  menjadikan  Al-qur’an  dan As-Sunnah sebagai  landasan  perbuatan.  Termasuk  dalam  hal  mendidik anak.  Menanamkan aqidah adalah  pendidikan dasar pertama yang harus  ditanamkan orangtua  kepada sang anak.  Karena  aqidahlah yang kelak akan menjadi  landasan   kepribadian sang anak  sekaligus  menjadi  pandangan hidupnya.  Bahkan sejak bayi lahir  ke dunia, yang pertama dilakukan orangtua adalah mengazankan ditelinga kanannya dan meng-iqomahkan  ditelinga kirinya.  Inilah salah satu  bentuk  penanaman aqidah yang pertama  kepada sang anak.

Anak  adalah anugerah yang luar biasa. Sepertinya  seluruh orangtua sepakat  akan hal itu.  Adalah wajar  jika ada hal terbaru mengenai  perkembangan sang anak, serta merta  orangtua  merasa  gembira.  Ketika sang anak baru  bisa  merangkak, berjalan,  tertawa, tak lupa orangtua  megabadikan momennya. Pun dalam hal  berbicara,  orangtua  tak  jarang  mengajari  sang  anak , “Ayo nak, panggil  ummi … yang  ini abi… ummi,abi “.  Begitulah  umumnya.  Rasa  bahagia pun meluap-luap  ketika kata yang pertama kali keluar  dari  mulut  kecilnya  adalah ‘ Ummiiii’,  atau  ‘Abiiiiii’.  Wajar  bila orangtua  bahagia. Namun, bijakkah seperti itu?

 Imam Syafi’i mengatakan, kewajiban pertama seorang hamba adalah ma’rifatullah (mengenal Allah), Tuhan yang telah menciptakannya.

Dari Ibnu Abbas dari Nabi saw ia berkata:” Mulailah (mengajarkan) atas anak-anak kalian kalimat: Lailaha illa llah  dan talqinkanlah  mereka ketika meninggal  dengan Lailaha illa llah. Barangsiapa  yang uacapan pertamanya Lailaha illa llah   kemudia  ia hidup seribu tahun  maka ia tidak akan ditanya tantang satu dosa pun.”                                                                                                                                                                                                                                                                                                 (HR.Al-Hakim dan Al-Baihaqi dalam syuabu al-Iman. Ia berkata hadits ini gharib).

“Mereka(para sahabat) mensunnahkan kalimat pertama yang difasihkan  kepada anak mereka  adalah mengajari mereka : Lailaha illa llah  tujuh kali. Dengan demikian kalimat tersebut merupakan kalimat pertama yang mereka ucapkan.” (HR.Abdu ar-azzaq)

Ya, Allah lah yang wajib  disebut  pertama kali  oleh  sang anak, bukan orangtuanya, abi umminya, atau ayah bundanya, bukan, tetapi Allah…Allah