Apa yang dipikirkan mahasiswi  menjelang  kelulusannya?

Bekerja, memiliki gaji tinggi, lanjut kuliah, menikah, punyak anak, sambil terus  bekerja….

Itu hanya  pemikiran  rata-rata  mayoritas  mahasiswi di Indonesia.  Saya  pun, dahulu  demikian.  Cita-cita  menggapai  karir  keduaniawian  begitu  menggelora  dihadapan.   Bekerja  dengan  salary  yang  cukup  memuaskan,  menikmati  pencapaian  akademis  hingga ujung langit, baru kemudian  menikah, baru  kemudian  punya  anak, baru  kemudian…what  next?

Tapi  pernikahan  mengubah  segalanya. Menghayati  peran  sebagai  ibu  muda, sekaligus  istri  yang  harus  mendampingi  suami  dengan  mobiltas  yang supersibuk  sekali, luar  biasa  agungnya. Mudah  kah? Tentu  tidak…tapi  kog   bahagia? Yaiyalah… Tak  perlulah  saya  uraikan  ayat-ayat yang  menunjukkan begitu  mulianya  posisi  seorang  ibu  yang  mengerahkan  seluruh  tenaga,perhatian, dan  pemikirannya  hanya  untuk  suami  dan  anak-anaknya.  Betapa  setiap  curahan  kasih sayangnya  berbalas  surga, karena  rumah  tempatnya  menghabiskan  24 jam  hidupnya  adalah  ladang  amal  yang  kelak  bersemi  pada  waktunya.

Dulu mungkin saya menganggap wanita yang keluar rumah di pagi hari dengan seragam rapih, sepatu mengkilap dan badan yang wangi jauh lebih keren daripada wanita yang pagi harinya dihabiskan dengan menggendong  anak, menjemur pakaian atau menyetop tukang sayur yang lewat depan kompleks. Itu dulu..

Perjalanan hidup kemudian mengajarkan saya kalau menjadi ibu rumah tangga bukan hal yang mudah. Pendidikan terbaik untuk anak-anak, untuk generasi masa depan semua dimulai dari rumah. Siapa yang jadi ratu di rumah ? Siapa yang memegang kendali ketika sang suami lebih banyak menghabiskan waktu di luar sana untuk mencari nafkah ?

Ketika seorang wanita memilih untuk 100% berada di rumah, mengambil tanggung jawab penuh sebagai guru bagi anak-anaknya, menjadi pelayan bagi seluruh keluarga maka sejak itulah dia menjadi seorang wanita yang luar biasa. Tak gampang menjadi guru, perencana keuangan, pelayan, koki dan ibu dalam waktu bersamaan. Hanya merekalah yang luar biasa yang mampu melakukannya.  Betapa  didapur  segala  profesi  digelutinya, menjadi  ahli gizi  dan  koki  yang  terbaik  demi  membuat  menu lezat yang sederhana  . Beres  didapur, tergopoh-gopoh  sang  ibu  harus  menyiapkan  perbekalan  suaminya  untuk  bekerja,  menyetrika  pakaian, memakaikan  seragam  kerja  untuknya,  memastikan  bahwa  sang  suami  bekerja  dengan  riang  gembira. Apakah  sang ibu  bisa  segera  istirahat? Belum, anak  sudah  menunggu  minta  dimandikan, memanjakannya, mengajaknya  bermain, mengajarkannya  mengenal  dunia,, bolak-balik  sembari membereskan  rumahnya  agar  kembali  rapi.  Pegal pun  tak  dirasa.

Kalau  saja   dihitung dengan angka, meski sebenarnya ini tak sopan,  karena bagaimanapun tugas seorang ibu rumah tangga sangat tak ternilai harganya. Ilustrasi ini hanya sekadar pengingat, betapa tugas dan “harga” seorang ibu rumah tangga tak pernah mudah dan murah.

Seorang ibu rumah tangga mengerjakan semua tugas yang biasanya dikerjakan oleh para professional. Jika saja  para  professional  yang  mengerjakannya, Bayangkan berapa besar biaya yang anda keluarkan untuk menyewa konsultan keuangan, juru masak, pelayan restoran, guru privat dan lain-lain. Bukan biaya murah tentu saja,.. Allahuakbar!

Kini  saya  menjadi mengerti  kenapa  begitu  banyak  wanita  yang  enggan  menjadi  ibu rumah tangga.  Di Singapura  saja, betapa sulit  meminta  wanita  bersedia  untuk  menikah  dan  punyak  anak.  Karena  mereka  menganggap  betapa  menjadi  ibu rumah tangga  merupakan  momok  menakutkan, pintu  penjara  sampai  gerbangnya  neraka. Ahh,pikiran mereka sungguh terlalu.huh…

Dan  terima kasih. Allah  begitu  membimbing saya dengan  halusnya.  Ia  pertemukan  saya  dengan  ibu-ibu  rumah tangga  yang  ternyata  ber’nasib’  sama.  Lulusan  elektro, lulusan  fisika, lulusan  S2,lulusan S3, tapi  mengopsikan  hidupnya  sebagai ibu rumah tangga full time. Persis, bahkan  ketika  salah  satu  orangtua  dari mereka tak pernah memancarkan binar kebanggaan ketika menyebut profesi anak perempuannya. Ibu rumah tangga biasa, begitu kata orang tuanya dengan nada datar. Bagaimana  tidak,  Para  orangtua melewati deretan tahun yang berat untuk membiayai anak perempuan mereka hingga ke perguruan tinggi, melewati ribuan malam menemani anak perempuan mereka belajar dan mengerjakan tugas, melafalkan ribuan doa semoga anak perempuan mereka tetap bisa sekolah dan kuliah dengan baik. Bahkan mendampingi dengan bangga  hingga  prosesi wisuda, Harapan sang anak perempuan akan bekerja di sebuah perusahaan besar atau bekerja dengan seragam khas abdi negara hancur  sudah, ketika  sebagian  dari  mereka  mengecap  rasa  kecewa tatkala  sang anak  memilih  ‘karir’ terbaiknya  sebagai  ibu rumah tangga.

Sungguh begitu  menggetarkan dan  mengharu biru, bukankah  ibu rumahntangga  adalah  penegasan  sebuah  madrasah  agung,, dimana  anak-anak  mempertanyakan  semesta  dengan  begitu  nyamannya  hanya  kepada  sang  ibu yang  ia  dapati  dirumah  setiap  saat  setiap  waktu  hanya  untuknya.  Betapa  ibu  rumah tangga  adalah  derma  pengaduan  ketika  sang  suami  mengalami problema  di lingkungan  kerjanya, dekapan yang hangat  ketika  lelahnya  tiba. Betapa  ibu rumah tangga  itu  sama  dengan  sosok  yang  begitu  mereka  tunggu  belaian kasih sayangnya, tempat yang  menentramkan  saat  anak-anak  gelisah  ketika  hujan  petir  membahana.     Perpustakaan  paling  lengkap  tempat  mereka  bertanya, lapangan  paling  lapang  yang bahkan, tak aka pernah tergantikan oleh gedung-gedung tak bernyawa.

Robbi…akhirnya  inilah  saya  kini.  Lebih  memilih  untuk  menggantungkan  toga.  Biarlah  ijazah-ijazah  itu  teronggok  menjadi  residu  yang  tak bernyawa.  Karena  ini  lah  karir  abadi yang  tak  akan  pernah  surut  hingga  ajal  menjemput.

nb:untuk suamiku…hatur nuhun sangat..atas segala  daya  upaya yang diberikan untuk mendukung  ‘karir’ kerumahtanggaan saya.🙂

 @ Nurina Purnama Sari ©2011