“ sewaktu  belum  menikah  saya  termasuk  kutu  buku.   Setiap  datang ke majelis ilmu pun saya  selalu  tepat  waktu.  Tetapi  setelah  menikah dan punya  anak,  boro-boro   mau  halqoh  tepat  waktu, urusan anak  dan  suami  sudah  menunggu.  Boro –boro  mau  baca  buku,  kalau tiap  kali pegang  buku  anak  akan  ‘menganggu’?”

Kawan, frase  diatas  sekedar  ilustrasi  yang  dirasakan  hampir  sebagian wanita  yang  kini  menyandang  status  istri dan ibu.  Bahkan, dahulu  saya  pun  pernah  ‘di nasehati’  oleh  seorang  ibu yang sudah  berpengalaman, “ Ri, mumpung  belum  punya  nikah, mumpung  belum punya  anak, banyak-banyak  baca  buku.  Banyak-banyak  menghadiri  kajian  ilmu.  Nanti  kalau  sudah  menikah  dan  punya ‘buntut’,  baca  satu halaman  sudah  syukur.”

Dan  kini, saya  pun merasakannya.  Hampir  setiap  hari  berkutat  dalam urusan  kerumahtanggaan, mengurus  suami  dan  anak,  seluruh  waktu  habis  untuk  mencurahkan  segenap  kasih sayang  dan  perhatian  untuk  mereka.  Daya  baca  saya  menjadi  ‘tumpul’,  kecepatan  membaca  jadi  menurun,  ketika  sebelum  menikah  saya  bisa  melahap  habis  satu  buku  dalam  satu  hari, kini  membaca  satu lembar  pun  sudah  membuat  mata  saya  mengantuk.   Apakah yang salah?

Tentu  bukan  pernikahan, suami, atau  anak  yang  salah.  Sekali  lagi,  kita  para  istri dan  ibu  harus  pintar-pintar  manajemen  waktu.  Akhirnya  kepada  suami  tercinta,  saya  pun ‘curhat’  tentang hal ini.   Bekerja sama dengan suami  sebagai  partner rumah tangga adalah  jalan yang terbaik.  Saya  dan suami  kembali  mengingat  kisah  para  wanita  Anshor  yang  begitu  bernafsu  untuk  menuntut  ilmu  kepada  Rasulullah.  Hingga pernah  suatu  ketika Aisyah rodhiyallahu ‘anha  memuji wanita Anshor karena cinta mereka kepada ilmu. Ia berkata:

”sebaik-baik wanita adalah wanita Anshor. Rasa malu tidak menghalangi mereka memperdalam agama.”(HR.Bukhari)

Ah, wanita-wanita  Anshor  sungguh  membuat  saya  iri.  Mereka  para  wanita  shalihah  yang  tercatat  oleh  sejarah  masa  lalu.  Mereka  juga  seorang  istri  dan  ibu. Karena,  salah satu tanda istri yang shalihah adalah penuh perhatian dan cinta kepada ilmu. Bila sifat itu belum ada pada istri-istrimu  wahai  para  suami, maka doronglah  istrimu  untuk  mencintai  ilmu. Dan jika sudah, disinilah  peran  suami  bermain  dengan  indahnya,   para  suami   wajib  memberi kelapangan jalan  kepada   para  istri  untuk  menuntut  ilmu.

Dan  inilah  pesan  khusus  kepada  para  bapak-bapak  yang  shalih ; Karena itu bantulah  istrimu dan berikanlah kesempatan serta fasilitas untuk menambah khazanah ilmunya. Temanilah ia dan tidak ada salahnya engkau, para  suami yang shalih,ketika  senggang  waktumu,   menggantikan tugasnya menjaga anak-anak agar istrimu bisa menghadiri majelis-majelis ilmu dan mendengarkan nasehat yang berharga.

Untuk memenuhi anjuran ini usahakan agar rumahmu ada perpustakaan, meskipun sangat  sederhana. Milikilah sarana pengetahuan yang bervariasi  agar  istrimu  tidak  lelah  untuk  mengkaji ilmu  dirumahnya  sendiri. Ingatlah, semakin bertambah ketaqwaan dan keshalihan istrimu, maka engkaulah orang pertama yang akan menikmatinya.

Bapak-bapak yang  shalih, janganlah  menjadi  suami yang sepertinya merasa takut apabila istrinya lebih berilmu daripadanya. Atau ada juga suami yang giat berda’wah dan menyebarkan ilmu di tengah masyarakat, sementara ia biarkan istrinya hidup dalam kebodohan. tidak berkembang pengetahuannya.  Karena  ketika dirumah sang  suami  penda’wah  ini  memilih  tidur  daripada  berbagi  ilmu dengan sang istri. Mungkin  sang  istri  bisa  memaklumi. “ah, mungkin  abi  kecapean  habis  ngurusin umat.” ^^ #peace#

Karena  itu  sekali  lagi,  kita para  istri  harus  malu  kepada  wanita  Anshar.  Apalagi  perkembangan zaman  begitu  memudahkan.  Padahal dahulu    para  istri shalihah harus  menanak  nasi  dengan  kayu  dan  abu. Betul tidak  jamaah?😀

@ Nurina Purnama Sari ©2011