Disebuah  kota kecil bersahaja,  jauh dari hiruk pikuk modernitas,  tinggal seorang ‘alim  ulama sepuh yang sangat  dikenal  namanya   hingga  ke seluruh penjuru  dunia. Seorang  pemilik  pondok  pesantren  yang  disegani.  Sikap  beliau  terhadap  perjuangan  syariat  Islam sudah tidak dapat  ditawar lagi.  Karena  perjuangan  di jalan inilah yang  kerap  menjadikan bilik  penjara  sebagai  makanan  beliau  sehari-hari.  Sebut  saja  beliau  Ustadz A.

Dan di ujung  jalan, tidak  jauh  dari  pondok  pesantren, ada  satu  sosok  penarik becak, sama-sama  sepuh dengan  Ustadz A, bahkan terlihat lebih renta. Banjir  peluhnya karena mengayuh  pedal becak  membasahi  tubuh  kerontang  yang  tinggal  tulang  dibalut  keriput.  Wajahnya  lelah. Namun  setiap  ada  yang  menumpang  becaknya  untuk  diantar  ke pesantren, bukan  main  berbinarnya  ia.  Dengan  menggebu-gebu  semangat 45  sang penarik becak sepuh  itu  selalu  bercerita  dengan bangga, kalau  beliau  kenal  dekat  dengan  si Ustadz A.  Bahkan  mengaku  bahwa  si ustadz  A adalah  teman kecilnya.

Tiba-tiba  perasaan  saya  diselimuti  rasa  pedih.  Pedih  karena  merasakan  bahwa  si bapak  penarik becak  belum  juga  punya  kesempatan pensiun  hingga  usia  sepuhnya. Mereka adalah  dua  sosok  yang nyata. Sama-sama  dibesarkan dari kota kecil yang sama, sama-sama  seusia, tapi begitu  berbeda perjalanan  hidupnya.  Yang  satu  mungkin  tak  pernah  beranjak  dari  pedal  becaknya, sedang  yang  satu lagi  begitu  mendunia  karena  kedalaman  ilmunya.

Bukan bermaksud untuk  mengadili  hidup  keduanya  yang begitu  berbeda, tapi  janji  Allah  itu benar.  Hikmahnya, ilmu benar-benar  bisa  membuat  derajat  manusia  lebih tinggi  dari  sebelumnya.   Ilmu adalah kunci  yang membuka  gerbang  kehidupan yang lebih luas  dan lebih dalam. Ilmu adalah sebuah penentu yang akan memperbaiki kualitas hidup, amal ,menjernihkan pandangan serta arah kehidupan.

Bagaimana  dengan  kita  sendiri, para  pengemban da’wah, yang sedang  mengemban misi  mulia? Bagaimana dengan sikap kita terhadap ilmu itu sendiri? Padahal,  kita  ibarat  prajurit yang hendak  berperang. Hanya  berbeda medan dan senjata saja. Jika prajurit berperang dimedan perang, maka  pengemban da’wah  berperang di medan da’wah, yakni  tengah-tengah pemikiran  umat.  Jika  prajurit  berperang dengan  senjata pedang dan tembakan, maka  pengemban da’wah  berperang dengan senjata  Ilmunya.

Namun prajurit tersebut akan dengan  mudah menjadi  pecundang, mati  menyerah di kandang lawan,  jika  ia tak pernah  merawat  senjatanya  dengan  baik, dan  meningkatkan   kemampuan  berperangnya.  Nah, pengemban da’wah  pun  bisa  berubah  status  menjadi  pecundang, berguguran  ditengah  medan juang, jika  ia  tidak pernah merawat  senjatanya-yakni  Ilmu- dan tak pernah  meningkatkan  keilmuannya.

Apalagi  seorang pengemban da’wah yang mengemban ideologi  Islam. Yang tugasnya memang untuk menaklukan pemikiran-pemikiran  umat, dari yang tadinya thogut  untuk  digantikan  dengan  pemikiran  Islam.  Pertentangan? Pasti ada. Karena  benturan pemikiran  atau  shira’ul fikr  adalah niscaya.  Namun  menaklukan  umat itu tidak semudah membalikkan  telapak tangan.  Di hadapannya  ada tembok kebathilan yang sudah mengakar dari zaman nenek moyang. Itulah  yang harus diruntuhkan.

Tapi bagaimana  caranya? Bisakah  itu terjadi jika  pengemban da’wah tidak pernah berusaha  mengasah ‘senjatanya’  dan  meningkatkan ‘kemampuan  berperangnya’ ? Inilah pentingnya  kita-pengemban da’wah- untuk selalu  rajin menuntut ilmu  (thalab al-‘ilm)  dan tak lelah mendalami agama (tafaqquh fi ad-din). Sayangnya, meski  sudah dipahami  urgensinya, tak sedikit pengemban da’wah  yang belum optimal dalam menuntut ilmu (kecuali seminggu sekali dalam halqah😦 ) . Dan belum optimal mendalami  agama (memperbanyak muthala’ah😦 ).  Sebabnya  beragam, entah karena  sudah merasa  cukup  dengan halqah mingguan, karena  terlalu   sibuk (tidak jarang malah sibuk diluar aktivitas da’wah), karena merasa tidak ada tantangan (mungkin karena jarangnya  ia terjun di medan da’wah), karena  malas, atau karena  tergoda dengan  aktivitas mubah,  dll.

Jika  sudah begitu, mungkinkah pengemban da’wah  berhasil menang  bertarung  di medan  perang  pemikiran? Mungkinkah  ia  sukses  ‘menaklukan’  umat yang terkotori  lumpur  jahiliyah? Mungkinkah  ia berhasil  melahirkan  barisan  kader  da’wah? Tampaknya  kita harus kembali berkaca kepada para sahabat  dan  para ulama salafush shalih.  Mereka senantiasa terlibat dalam upaya mencari dan mendalami  ilmu –ilmu agama, tidak lain karena mereka sangat memandang penting ilmu.  Bahkan, sebelum menjadi  para penda’wah  dan mujahid ulung, mereka adalah para pecinta ilmu sejati dan  para ulama yang mumpuni. Saking cintanya  pada ilmu, Abu Hurairah dan Abu Dzar ra pernah  berkata,” Satu bab ilmu yang kami pelajari  lebih kami sukai ketimbang shalat sunnah  seribu rakaat.”

Ilmu…Ilmu…dan…Ilmu… Ilmulah yang membuat Ja’far bin Abi Thalib berhasil meyakinkan Najasyi  penguasa Habsyah, seorang penganut  Nasrani yang taat, sehingga ia mau mengabulkan  permintaan suaka  kaum Muslim ketika dikejar-kejar kafir Quraisy.  Ilmulah  yang membuat Mus’ab bin Umair sukses mengislamkan  para  petinggi  kota  madinah dalam waktu setahun. Ilmulah   yang membuat Ibn Abbas  mampu mengembalikan  ratusan  Khawarij ke pangkuan Khilafah setelah hujjah-hujjah  mereka berhasil dipatahkan. Ilmulah yang  membuat  Imam Al-Ghazali  menulis tidak kurang dari 100 judul kitab.

Sikap  kita  terhadap Ilmu menentukan segalanya. Jika  kita menghormati ilmu, maka  kita sama  dengan Ali bin Abu thalib yang mengatakan, “siapa saja yang mau mengajarkan saya satu huruf maka saya adalah hamba sahaya baginya.”. Jika kita menghormati Ilmu, maka kita sama dengan Imam Al Bukhari yang setiap beliau menuliskan satu hadist selalu di awali dengan shalat istikharah 2 rakaat.  Jika kita menghormati Ilmu, maka kita sama  dengan  Syeikh Ali tanthawi yang terbiasa  membaca buku 100 halaman perhari (subhanallah..). Jika kita menghormati Ilmu, sudahkah  kita  mempersiapkan halqah yang tidak hanya sekedar menerjemahkan tapi mempersiapkan energi baru di setiap perhalqahan? sudahkah kita serius mempelajari bahasa  arab yang kelak menjadi kekuatan Daulah? ah, ilmu. kau benar-benar cahaya…

Semoga kita-khususnya saya pribadi ya Rabb😦 – termasuk orang-orang yang sudah, atau sedang berproses kesana. Karena menuntut  ilmu membutuhkan kesabaran seluas samudera. Jangan sampai kita lalaikan perkara ini, namun disisi lain kita justru tersibuki untuk mengejar ilmu duniawi, ilmu  untuk sekedar kepuasan berpikir semata, dan ilmu untuk menjadi gagah  dan bangga  karena gelar yang akan disandangnya,  yang membuat kita  serasa berjalan dalam  labirin pekat yang membuat sesat. Wallahualam bi’ shawwab…

***Kelebihan seorang alim (ilmuwan) terhadap seorang abid (ahli ibadah) ibarat bulan purnama terhadap seluruh bintang (HR.  Abu Dawud).***

***Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat  (QS. Al Mujadilah 11).***

Nurina Purnama Sari