-Catatan Menuju Konferensi Rajab 1432 H (1) –

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu…”(QS.Al-Anfal :24)

Dakwah  dan  Jihad  adalah dua  kata  yang selamanya  harus  terpatri dalam  diri  seorang muslim  yang  menghendaki  al-manzilah al-‘ulya (kedudukan tinggi)  di sisi Allah  SWT.  Setiap  mukmin  yang  memahami  dan  menghayati  hakikat  kehidupan  pasti  akan  menempuh  jalan kebahagiaan  abadi  di sisi Allah.  Ia  akan  mendekat, berlari, dan  terbang  menuju  keridhaan-Nya.  Dan setiap pengemban  dakwah  yang  di dalam relung  hatinya  terhujam  keyakinan  bahwa  kematian  itu  kepastian yang cuma  terjadi sekali, maka  ia  akan  memilih  seni  kematian yang  paling mulia  di sisi  Allah.

Adakah jalan yang  lebih mulia  dan  dapat  membawa  kita  menuju  puncak  kebahagiaan  hakiki  selain jalan dakwah  yang  telah ditempuh oleh Rasulullah  Saw  dan  yang  beliau  nyatakan menjadi  jalan  pengikutnya? Allahumma laa.  Dan  adakah kematian  yang lebih terpuji  disisi-Nya  yang  selalu  didambakan  oleh  hamba-hamba  yang  beriman  sejak dulu  hingga  hari kiamat  selain  mati  dalam  jihad  fi sabilillah? Allahumma laa.

Ikhwti  fil Llahi, tidak ada  yang telah membuat  usia  para  sahabat  dan  para  ulama  sekaliber  Imam  Abu Hanifah, Imam Malik,Imam Syafi’I, dan  Imam Ahmad r.a  seolah terus  memanjang  hingga  akhir  zaman, kecuali  dakwah  yang  mereka  lakukan. Tidak  ada  sesuatu  yang  telah  membuat  lisan  orang-orang  mukmin  menyebut  dan  mendoakan  Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, dan Khalid bin Walid  atau  tokoh-tokoh lain seperti  Shalahuddin  Al-Ayyubi  dan Thariq bin Ziyad  selain jihad fii sabilillah. Kehidupan  mereka  menjadi  berharga  bak  permata  karena  sigap  menyambut  seruan  Allah  dan  Rasul-nya.

Namun, kesigapan itu  bukanlah  suatu  hal  yang  muncul  begitu  saja, melainkan  adalah  buah  keimanan  yang  kokoh  kepada  Allah  sebagai  Pemberi  dan  Pencipta  kehidupan, buah  keimanan  yang  kokoh  kepada  hari  akhir  saat  terwujudnya  kehidupan  dan  kebahagiaan  yang hakiki.  Kesigapan  itu  lahir  dari  hati  yang  tidak  lalai  dari  hakikat  ini.

Maka  kita  patut  bertanya  dan mengevaluasi  diri.  Seberapa  kuatkah  hakikat  kehidupan  abadi  di Akhirat  telah  tertanam dalam hati  yang  membuat  ruhul  istijabah  menjadi  karakter  dalam  diri  kita?  Seberapa  kuat  hakikat  ini  mewarnai  atau  men-shibghah (QS Al-Baqarah:318)  diri  dan  perilaku  kita  sehingga  segala  resiko  duniawi  dalam  dakwah  dan  jihad fii sabilillah  menjadi  kecil  di mata  kita?  Kekuatan  inilah  yang  menyebabkan  Anas  bin An-Nadhr r.a-paman  Anas bin Malik r.a)-  memberika n  respon  spontan  kepada  Saad bin  Muadz  r.a  tatkala  pasukan  mukmin  terdesak  oleh  musyrikin  diperang Uhud  dengan  ucapannya, “Ya Saad! Surga…surga… aku  mencium  baunya  dibawah bukit  uhud.” Kemudian  beliau  maju  menjemput  syahid  hingga  jenazahnya  tidak  dapat  dikenali,kecuali  oleh  saudara  perempuannya  lewat  jari  tangannya. (Mutaffaq  ‘alaih.Riyadhus  Shalihin, Kitab  Al-Jihad, hadis  No.1317).

Hal  itu  pula  yang  menjadikan  Hanzhalah  sang  ‘Ghasil  Al-malaikat”  segera  merespon  panggilan jihad,  meski  ia baru  menikmati malam  pengantin  dan  belum  sempat  mandi  hadats  besar. Perhatikan  pula  respon ‘Umair Ibn Al-Humam r.a  tatkala  beliau  mendengar  sabda  Rasulullah saw ,” Qumu ila jannatin  ‘ardhuhas-samawatu wal-ardh,”(Bangkitlah menuju  surga yang  luasnya  seluas langit  dan  bumi).  Beliau  mengucapkan  kata,”bakh-bakh,”(ungkapan  takjub  terhadap  kebaikan  dan  pahala) semata-mata  karena  ingin  menjadi  penghuni  surga, lalu  segera  membuang  beberapa  biji  kurma  sambil  berkata ,”La-in ana hayitu hatta  akula tamarati  hadzihi  innaha  lahayatun  thawilah” (jika  saya  hidup  sampai  selesai  memakan  kurma  ini,oh betapa  lamanya  hidup(mananti  surga).  Lalu  beliau  maju  hingga  gugur  di perang Badar.(HR.Muslim dalam Riyadhus shalihin ,kitab Al-Jihad, hadis no.1314).

Atau  seperti imam Al-Banna yang berangkat menunaikan tugas dakwah meskipun  anaknya  terbaring sakit. Beliau  meyakini  bahwa  setelah usahanya  optimal  untuk  mengobati  putranya, Allah SWT  yang  diharapkan ridhaNya dalam  menunaikan tugas  dakwahnya, tidak  pernah  akan  mengecewakan  dirinya.

Ikhwti  fil Llahi, beban kehidupan dunia yang kita hadapi,apapun bentuknya, jangan sampai membuat  kita  kehilangan kepekaan  dan  kesigapan  memenuhi  seruan  dakwah  dan  jihad. Kita  patut  meneladani  syabab  pengemban dakwah  di  belahan bumi  lain yang  berada  di bawah tekanan rezim yang represif, yang tidak  pernah  mengendor  semangat  dan  aktivitas  jihadnya  meskipun  penjara  dan  rangkaian  siksaan  fisik  terus menanti  mereka. Juga  kesulitan hidup, bahkan tekanan  bertubi-tubi  terus  menghantam . Kerja-kerja  dakwah  bagi penegakan hukum-hukum Allah  di bawah  naungan Khilafah Islam terus  menanti kita.  Pun dengan kesulitan  dan ujiannya. Tapi  yakinlah  bahwa  kebersamaan  kita  dengan  Rasulullah  saw, shiddiqin, syuhada, dan  shalihin  di surga –Insya Allah-  ditentukan  oleh  sejauh mana  kita  meneladani  mereka  dalam  kesigapan  memenuhi  seruan dakwah  dan jihad.

Jangan  sampai  yang terjadi  adalah, kita  menyambut  seruan  dakwah  dan  jihad  dengan  kerja  yang  minimalis,  niat  yang alakadarnya, sekedar  memenuhi  kuota,  sekedar  mencapai  target  yang ditentukan  qiyadah  semata, sekedar  euphoria  yang  hanya  mengundang  “massa”  tapi  tidak  matang  merencanakan  tindak lanjut  pembinaannya.   Ingatlah  selalu  kecaman Allah  dan RasulNya  terhadap  orang-orang  munafik yang selalu  mencari-cari alasan (tafannun fil ‘udzr)  untuk  menghindar  dari  kebutuhan  berdakwah  dan  berjihad (lihat Q.S At-Taubah:94).  Atau  yang  menggambarkan keengganan  karena  hal-hal yang duniawi  yang kita  cintai.

“ Katakanlah: ‘jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.

 ( Q.S At-Taubah:24)


Nurina Purnama Sari