Fakta menunjukkan bahwa umat Islam hingga kini masih dipimpin atas dasar sistem sekuler yang sengaja di paksakan oleh kafir penjajah supaya penjajahan dan sistem yang mereka anut tetap langgeng. Maka bukan hal yang aneh jika umat Islam pun notabene masih digerogoti oleh sistem ekonomi kapitalis dalam semua sektor kehidupan perekonomiannya. Banyak umat islam yang dengan bangga memperkenalkan konsep ekonomi kapitalistik, ini terlihat di negeri yang dihuni oleh muslim terbesar ini, konsumsi buku-buku tentang investasi harta kekayaan dengan berbagai metode dan konsepnya menjadi best seller. Training-training dan seminar tentang menggandakan kekayaan laris manis, bahkan yang dibungkus dengan label ‘islam’ sekalipun, entah dengan hitungan matematika sedekah yang dapat menggandakan kekayaan anda, investasi emas, dan lain-lain.

Dengan suasana kapitalis yang diciptakan oleh orang kafir, umat islam berlomba-lomba menjadi konsumtif. Ingin memiliki semua yang muncul di iklan televisi walau sebenarnya barang itu tidak ia butuhkan, terpengaruh dengan adanya diskon-diskon dipusat perbelanjaan, memiliki barang-barang harus dari merk terkenal, dan lain-lain. Yang sangat disayangkan, tidak semua orang menyadari jika dalam pemikirannya telah tercemari oleh pemikiran ekonomi kapitalis yang rusak tersebut. Bahkan dikalangan pengemban dakwah yang seharusnya membuang jauh-jauh pemikiran kapitalistik. Disadari atau tidak, beberapa masih mengembannya dalam praktik kehidupan. Hal ini tentu akan mempengaruhi aktivitas dakwah yang dilakukannya.

 

Sikap-sikap yang telah tercemari pemikiran kapitalis antara lain nampak ketika seseorang menyamakan antara kebutuhan dan keinginan.Ketika seseorang menghendaki semua yang diinginkannya terpenuhi, seperti harus memiliki rumah pribadi mewah padahal rumah sederhana sudah cukup baginya, peralatan rumah tangga yang lengkap dan terbaru walaupun sudah memiliki yang lama (khususnya dikalangan ibu rumah tangga seperti saya, sudah punya satu wajan penggorengan yang sebenarnya cukup, karena diiming-imingi iklan di televisi,ingin menambah koleksi dengan wajan model terbaru yang bisa dibolak-balik,yang anti lengket, anti gosong, bla bla bla), harus memiliki jilbab dan kerudung model terbaru,harus memiliki gadget terbaru padahal gadget lama masih berfungsi,harus memiliki kendaraan roda empat misalnya, padahal untuknya cukup dengan kendaraan roda dua, harus memiliki uang banyak untuk di investasikan di hari tua, dan lain sebagainya. Lucunya, sebagian berlindung di balik alasan, ini untuk memperlancar aktivitas dakwah. Padahal, ia habiskan hari-harinya untuk bekerja dan hanya menyisakan sedikit waktu untuk berdakwah, atau berusaha keras mengumpulkan uang dan ‘menghemat’ infaq demi mengabulkan apa-apa yang diinginkannya.

 

Riilnya, ketika dakwah di jalan Allah membutuhkan harta kita, akhirnya kalimat pamungkas pun keluar dari mulut kita,”Maaf, saya tidak bisa berinfaq karena saya tidak memiliki uang”. Padahal faktanya, ia memiliki HP lebih dari satu, memiliki alat elektronik yang bisa ia korbankan demi dakwah. Ketika dakwah membutuhkan pengorbanan kita, kita berdalih.”Maaf, saya tidak bisa ikut halaqoh karena tempat halaqohnya sangat jauh dan saya tidak memiliki kendaraan,” Padahal, ia memiliki harta termahal dari ALLAH, apa itu? Kaki. Ya, kaki yang kita gunakan untuk menopang gerak tubuh kita. Bukankah itu yang termahal? Apakah anda mau jika ada seseorang yang ingin membeli satu kaki anda dengan harga satu milyar?. Atau yang memiriskan namun cukup sering terjadi, “Maaf, saya tidak bisa berdakwah karena terbelenggu masalah ekonomi.” Akhirnya, pelan namun pasti memutuskan untuk tidak lagi berdakwah dan keluar dari jamaah. +_+

 

Lalu dimana letak kesalahan berfikirnya? Tentu ini karena tercemarnya aqidah pengemban dakwah dengan aqidah sekuler kapitalis. Jika menurut para ekonom kapitalis kebutuhan identik dengan keinginan. Dengan konsep ini, negara penganut ekonomi kapitalis berlomba-lomba menciptakan barang yang sebenarnya termasuk kebutuhan tersier ( tidak apa-apa jika tidak terpenuhi, karena hanya merupakan pemuas keinginan semata), dan umat islam pun juga berlomba-lomba menjadi konsumen pertamanya. Padahal, yang harus kita penuhi adalah kebutuhan primer kita (basic needs), yang jika tidak dipenuhi bisa menyebabkan ‘dhoror bagi kita, contoh, makanan. Itupun untuk kebutuhan primer bersifat terbatas, artinya jika kebutuhan primer sudah terpenuhi, maka kita tidak akan menginginkannya lagi. Ketika kita lapar, maka harus kita penuhi dengan makan yang cukup. ketika kita kenyang, maka keinginan untuk makan pun tentu tak akan ada lagi, sekalipun kita disuguhi makanan terlezat. Sehingga kebutuhan primer manusia sebenarnya bersifat statis. Yang menjadi permasalahan yaitu adanya tren pertambahan kebutuhan sekunder dan tersier (lebih tepatnya dinamakan keinginan) disebabkan pertambahan kebutuhan manusia karena pengaruh kemajuan peradaban. Padahal sudah jelas, kebutuhan bersifat terbatas. Sedangkan keinginan bersifat tidak terbatas, dan disinilah sistem ekonomi kapitalis memainkan peran. Diproduksilah barang-barang sekunder dan tersier dengan model terbaru demi menjamu kepuasan duniawi kita. Sehingga merangsang umat islam untuk memperturutkan keinginannya saja. Jadi jika makan ayam goreng yang dijajakkan dipinggir jalan sudah cukup mengenyangkan perut kita yang lapar, untuk apa harus susah-susah memperturutkan keinginan dengan ayam goreng siap saji dari restaurant Amerika, misalnya.

 

Sesungguhnya inilah yang dinamakan bencana pemikiran. Dan bencana pemikiran merupakan bencana terbesar yang telah memalingkan kaum muslim dari perjuangannya. Menggeser pemahamannya sedikit demi sedikit hingga keluar dari garis perjuangan. Ini baru sebagian kecil pemikiran kapitalis yang harus diwaspadai di kalangan pengemban dakwah, masih banyak lagi hal-hal yang harus diwaspadai. Banyak yang tidak menyadari bahwa aqidahnya telah tercemari noktah walaupun setitik, aqidah yang ia emban sudah tidak murni aqidah Islam. Karena dahulu pun saya pernah tercemari pemikiran demikian. Pengemban dakwah manapun harus senantiasa memurnikan aqidahnya. Caranya tentu dengan tidak berhenti mengkaji Islam, agar kita punya benteng pertahanan yang mampu memfilter  pemikiran antara haq dan yang bathil dalam kehidupan. Serta selalu mengingat perjuangan salafus shalih dan orang-orang terdahulu yang begitu ikhlas berjuang untuk penegakan Islam tanpa teriming-imingi kehidupan duniawi. Karena oleh kaum kafir , yang haq dengan yang bathil dicampuraduk, dibungkus dengan kemasan yang cantik, sehingga jika kita tidak memiliki bekal pemahaman yang cukup, maka berpuas dirilah mereka karena kita, pengemban dakwah, telah masuk dalam labirin kehancuran yang mereka buat .

“Demi Allah, tidaklah kefakiran lebih aku takutkan atas kalian, akan tetapi aku lebih mengkhawatirkan kalau dunia menguasai kalian, sebagaimana telah menguasai orang-orang sebelum kalian, sehingga kalian berlomba-lomba untuk memperolehnya, sebagaimana mereka juga dahulu berlomba-lomba untuk memperolehnya. Lalu dunia mencelakakan kalian, sebagaimana juga telah mencelakakan mereka.” (Sabda Rasulullah yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim)