Kita semua tahu kehidupan dakwah dan aktivitas Islam itu sangat berat, sulit, penuh cobaan, tantangan, dan sarat  dengan godaan-godaan  yang  menyesatkan. Karena  ketika seseorang  memilih  hidup untuk  berdakwah, berarti  ia harus siap menghadapi  jalan kebenaran  yang  sarat  dengan onak dan duri.  Betapa  tidak, kemungkaran  bersliweran  setiap  waktu  disana-sini  dan  mengakar, hingga  tidak  lagi  dianggap  sebagai  kemungkaran. Antara  yang  haq dan yang bathil dipertukarkan. Kalaupun  seorang  pengemban dakwah ingin merubahnya,ia  ibarat berhadapan dengan tembok super kokoh. Dunia (materi)  tidak  ketinggalan tampil memikat dihadapan  para pengemban dakwah, dengan dandanan amat memikat, guna  menjajakkan kenikmatan semunya. Tingginya  derajat seorang pengemban dakwah  diruntuhkan  dengan konspirasi-konspirasi  negatif  yang  dibangun  musuh-musuh Islam, sehingga  pengemban  dakwah  di mata  masyarakat  kebanyakan kini, laiknya  monster  berbaju  teroris.  Bagaimana  tidak,  wong setiap hari  mereka  disuguhkan berita negatif  tentang pencitraan  buruk  pengemban dakwah.  Menyaksikan dan mendengar  bahwa  algojo  jahiliyah  mengarahkan  moncong  senapan  ke dada  pengemban  dakwah,  menembak  langsung  mereka  yang  melawan  sembari memekikkan  takbir.

Sehingga  tak jarang, karena  beratnya  mengemban  dakwah  di jalan kebenaran, pengemban  dakwah  pun  mulai  berguguran  satu persatu.  Pertandanya  banyak sekali, ada  pengemban dakwah  yang  semangat  dakwahnya  menurun, absen dari halaqah-halaqah tanpa  ada uzur  syar’i, nyalinya  menjadi  kecil,  tidak  tegar  diatas  jalan dakwah,  hingga  kurang  menikmati  ‘keberuntungannya’  di jalan kebenaran  ini.  Walhasil  kontribusinya  untuk  dakwah  pas-pasan,  atau  ingin  ‘istirahat’  sejenak  dari  jalan dakwah,  atau  ‘meragukan’  kebenaran jalan dakwahnya,  bahkan terjerumus  menjadi penghambat dakwah itu sendiri.

Pengemban dakwah  yang dimuliakan  oleh Allah, biarlah, banyak  yang  mengira  menapaki jalan kebenaran  ini, jalan para  Nabi, jalan  orang-orang shalih, jalan para  syuhada, jalan para  pejuang  da’wah  adalah  beban  yang  sangat  berat.  Berat, karena  harus  banyak  bertabrakan  dengan kondisi  yang berbenturan dengan keinginan.  Berat, karena  selalu  bersinggungan  dengan  realitas  yang tidak sejalan  dengan  harapan.  Berat  karena  melihat  betapa  kemungkaran  begitu  merajalela.  Berat  karena  harus  terus  menerus  berjalan melawan  arus  yang  berbeda  dengan  kebanyakan orang…

Biarlah  orang  menyangka  seperti  itu.  Karena  sebenarnya  orang-orang  mukmin  yang  mengemban  dakwah  Islam secara  ikhlas  justru  merasakan  sebaliknya.  Mereka  menyukai  jalan kebenaran  dan  menemukan  kenikmatan  didalamnya  yang  tidak  dapat  diungkap kata. Sebab,kenikmatan  ini  hanya  dirasakan  oleh  orang-orang  yang  merasakannya.  Kenikmatan, ketenangan, dan kebersahajaan, yang tak bisa  dibayar  oleh apapun.   Karena  mereka  justru  merasakan  pengorbanan  dakwah  itu  sebagai  sumber  kebahagiaan.  Mereka  merasakan  jerih payah dan kesulitan   dalam dakwah  sebagai  kunci  ketenangan. Tenang,  karena  kelak  di yaumil hisab, merasakan peluh dan darah di jalan dakwah sebagai  syarat  meraih kemenangan  yang sebenar-benarnya, yakni berdiri  di barisan Rasulullah, di bawah  bendera  penegak  Agama Allah, hingga  Allah  tersenyum kepada  mereka.