Saya jadi teringat sepenggal kalimat yang sering terngiang di benak saya. Idealisme. Yang sampai sekarang tertanam dalam diri: Katakan Kebenaran Meskipun Pahit!

Pertama Kali saya mendengar kalimat ini, dari seorang sosok lelaki hebat. Kalimat ini yang senantiasa keluar lewat ucapan dan sikapnya. Belasan tahun saya mengenalnya dengan brand image ”kebenaran yang berjalan”. yang membuat saya hormat kepadanya. dan lelaki hebat itu, adalah Ayah saya.

Ada sebuah kejadian yang berbekas dalam hidup saya. Dari kejadian itu ada sepetik hikmah yang tidak bisa saya bayar dalam hidup. sekitar tahun 2004, ayah saya menduduki ”amanah” untuk membawahi suatu wilayah . Pernah, suatu sore selepas kerja, ada seorang tamu perlente bermobil plat merah bertandang ke rumah pada saat itu, dengan tujuan hendak bertemu ayah . Beliau, yang pada saat selepas ashar di mesjid baru saja menyelesaikan sholat, segera melayani sang tamu ’terhormat” tersebut. yang saya tau, tamu itu adalah orang terpandang pada saat itu, dan mungkin saja hingga kini.

Pertemuan itu singkat, tidak mencapai sepuluh menit. Saya yang waktu itu berada di bilik kamar, mendengar suara ayah dengan nada yang menaik tinggi di menit-menit terakhir. hey, ada apa? sepertinya ayah saya marah.

Malam selepas isya, akhirnya saya tahu. saat makan malam kami sekeluarga, ayah menceritakan ihwal permasalahannya. Semua itu berawal dari sebuah tandatangan. Demi sebuah tanda tangan, ayah harus berselisih dengan orang yang notabene adalah atasannya sendiri. Singkat cerita, tandatangan itu di perlukan sebagai sebuah legitimasi pengesahan sebuah bangunan yang berdiri di atas wilayah yang waktu itu di amanahkan kepada ayah. Tanda tangan keramat, karena semua pihak sudah meng-gol-kan perizinan tempat di wilayah tersebut. Tinggal ayah saya saja. Namun, pembangunan tempat itu menemui hambatan. Dan batu sandungan itu di sebabkan karena tidak keluarnya izin dari ”tandatangan” ayah saya. Saya menjadi mengerti kenapa ayah menolak membubuhkan tandangannya. Ya, karena bangunan itu adalah sebuah tempat maksiat. Prostitusi berkedok klub malam.

Padahal, atasan ayah pun sudah memberikan tandatangannya. Namun, surat izin bangunan itu menjadi tidak sah tanpa tandatangan Ayah. Dan ayah, secara tegas mengatakan TIDAK pada saat itu. ayah menolak mentah-mentah menyertakan tandatangannya. “Selama Allah masih mengamanahkan nyawa ini, saya tidak akan biarkan hal itu terjadi di depan mata saya , Pak “… itu kalimat penutup yang menjadi akhir pembicaraan ayah dengan sang tamu.

Dan padahal, saya tahu , kalau sebuah tandatangan ayah pada saat itu seharga mobil baru. namun, ayah, berpijak di atas kebenaran, meskipun onak duri menanti di depan. dan sejak saat itupun, saya tahu, berbagai pihak ”yang tidak sepihak” berusaha untuk menjatuhkan ayah, walaupun atas izin Allah , tidak pernah berhasil.

“Katakan kebenaran meskipun itu pahit, nak. tandatangan itu, sekecil apapun, walaupun hanya sebuah, pasti akan Abi pertanggungjawabkan di akhirat kelak “….begitu pesan ayah dengan suara bergetar, sembari memandang mata saya, menyiratkan sebuah pesan mendalam bahwa ”ini akan ada akhirnya”.

Dan benar saja, ini akan ada akhirnya. Allah ternyata lebih menyayangi ayah 😦 . Ayah di panggil tepat setelah menyelesaikan Tawaf Wa’da sekaligus Haji Wa’da, Haji perpisahan, menjelang 3 hari sebelum pulang ke Indonesia. Dan saya tahu, saya tidak pernah berada di saat-saat terakhir beliau. Jangankan mendampingi, melihat jasadnya terakhir kali pun tidak setelah 40 hari kami berpisah.

Dan sampai saat ini, yang saya tahu…. sikap ayah itulah yang membuat saya tidak akan gentar.Hingga kini.
*********Katakan Kebenaran Meskipun Pahit************

Momento, 5 tahun setelah itu…… 3:18 AM