Apa  yang  ada  dalam benak anda ketika  mendengar kata ‘Perempuan’? Satu jenis  makhluk  Allah yang banyak menguji  iman manusia. Menjatuhkan nama orang-orang besar dunia.Namun  tak sedikit  yang menjadi penentu  arah hidup lahirnya seorang pejuang dari rahimnya.  Dan  Peringatan Hari Kartini  setiap  tahun selalu  menjadi nafas  baru bagi ‘kebangkitan’ ide feminis. Setiap 21 April, Anda  akan banyak menemukan ulasan biografi  Kartini, atau  perempuan-perempuan  yang dianggap ‘sukses’  sesuai  tuntutan  zaman  ya hanya  di tanggal ‘sakral’ ini.

Silakan pelototi  televisi  atau  media cetak. Berbagai  ide ‘pembaharuan’ perempuan  bertabur bak  jamur di musim penghujan. Kebaya  saja  tidak cukup  sebagai simbolisasi  kebangkitan perempuan modern. Berbagai gagasan pembaharuan perempuan (baca:feminisme)  mereka  tawarkan,kampanyekan, dan di sosialisasikan hingga  ke ranah publik. Saya  tidak perlu menyebutkan nama-nama feminis  tersebut satu persatu. Karena  banyak sekali  perempuan yang  dengan bangga  mengatakan  bahwa dirinya  adalah pejuang  Gender  dan emansipasi.

Setidaknya, sejak cara  pandang sekuler menjadi  corong peradaban masa kini,banyak isme-isme yang  merupakan buah dari sekulerisme, seperti  demokrasi, liberalisme,pluralisme, termasuk feminisme  tanpa  ragu mereka ambil sebagai  nyawa  baru, bahkan sebagai  tuhan-tuhan abad baru.  Spirit  baru  yang kemudian diadopsi  oleh para  perempuan  tanpa filterisasi. Alhasil, gerakan perempuan  memang  ‘bangkit’  dan mengemuka menjadi  barisan  atas  nama  emansipasi. Menggeliat. Namun, What Next? Gerakan perempuan genderis ini  memang  hadir membangunkan alam bawah sadar kita. Tapi  kali ini, mereka  tampil  dengan format  dan nafas  yang baru, yakni  nafas  Kekufuran. Tanpa tedeng aling-aling dan rasa  bersalah sedikitpun, mereka hujat agama  sebagai  biang  ketidakadilan  dan kejumudan kaum perempuan, Sehingga  menurut  pendapat  mereka, agama  sudah saatnya  didaur ulang atau kalau  bisa  dipeti eskan saja.

Lantas, jargon ‘pembebasan perempuan’  pun mulai bergaung kencang, mengalahkan seruan-seruan ‘inqilabiy  untuk segera  menetapi kembali  konsep ‘keseimbangan  pembagian  peran’  yang  sesungguhnya  ditawarkan oleh Islam  namun selama  ini  terabaikan (atau sengaja  diabaikan). Perempuan  di era sekarang memang telah larut dalam euphoria pembebasan. Ibarat  kran yang lepas, perempuan  saling berebut  kesempatan  melepas segala atribut  dan pagar  pembatas  kebebasan  yang dianggap  mengkungkung  perempuan  dalam tembok derita.Jilbab, perwalian, pewarisan, bahkan institusi  perkawinan mulai dipertanyakan.  Kesetaraan  tanpa  bataspun menjadi  sebuah impian., sementara  peran  yang dianggap  ‘tradisional’ ,yaitu sebagai  isteri  dan ibu berubah menjadi hal  yang menakutkan.

Akhirnya  disinilah sekulerisme  memainkan peranan strategisnya  sebagai sang sutradara : Dalam  urusan  kehidupan, agama  tak perlu diberi tempat. Karena  bagi  mereka, agama  hanya  layak menjadi sajian  ‘pelengkap’  saat  ritual  perkawinan  dan prosesi  penguburan  dilangsungkan! Itulah yang menjadi  sasaran  tembak  mereka  sedari  awal. Bahagiakah  mereka? bisa  jadi  di awal, ya. akan  tetapi  pada  akhirnya  sebagian dari  mereka  tersentak  kaget  melihat  kenyataan, bahwa  feminisme  ternyata  hanya  menjanjikan kebahagiaan maya.  Perempuan bukannya  bertambah  mulia. Manusia  bukannya makin berjaya.  Kaum  perempuan  justru  kehilangan  jati  diri  sesungguhnya  sebagai  seorang muslimah. Mereka,  para  perempuan, justru  menjadi  makhluk asing yang  tak  bisa  membangun harmoni  dalam habitat  kemanusiannya  sendiri,

Sementara  umat  dan  masyarakat  nyaris  ambruk  karena kehilangan  para  pilar  penyangga  peradaban, setelah  kaum  perempuan  mencampakkan  tabiat  fitrinya  sebagai pengayom dan penjaga  generasi  dengan berlomba-lomba  membangun  karier  untuk sejajar  dengan  laki-laki. Betapa  tidak, keberhasilan  meraih kesetaraan tanpa batas, ternyata  harus  mereka  bayar  mahal dengan merebaknya  kasus  perceraian, kesendirian di masa tua, anak-anak bermasalah, persaingan  yang melelahkan, yang  ujung-ujungnya  adalah  ketidakbahagiaan.

Sudah  saatnya  kita  melihat  perempuan  dari sudut  pandang berbeda. Ada sekelumit  frase sejarah mengenai  keberadaan  perempuan yang dimuliakan oleh Islam.sebuah gambaran nyata  para  perempuan di bawah Naungan Khilafah Islamiyah  yang  sarat  dengan  nilai-nilai  Illahiyah. Ada  nama-nama  besar  yang tercatat  sebagai  perempuan  yang dimuliakan karena ketaatan mereka  kepada Allah  dan Rasulnya, semisal Khadijah binti Khuwalid, Fatimah Az-Zahra, Asma binti Abu Bakar, Aisyah binti Abu Bakar, Sumayyah, dan lain-lain.  Yang  semenjak  bersentuhan  dengan  Islam, keseharian mereka  hanya dipersembahkan demi kemuliaan Islam. Inilah  pilar-pilar kebangkitan muslimah yang hakiki. Karena diatas pilar-pilar inilah,  perempuan muslimah  generasi  sesudahnya  membangun kekuatan. Dimana  target  perjuangan mereka  tentu bukan lagi  sekedar  menegakkan kehidupan Islam, melainkan  berupaya  mempertahankan eksistensinya  agar  kemuliaan Islam tetap terjaga.

Dimasa Khulafaur Rasyidin, dan para  khalifah sesudahnya, peran muslimah dalam kancah  kehidupan demikian besar.Baik dalam aktivitas amar  ma’ruf nahi munkar muhasabah  lil hukam, bahkan aktifitas  jihad dan futuhat. Uniknya, pada saat yang sama, merekapun bahkan  berhasil mencetak generasi terbaik -generasi  para mujahid dan mujtahid-  yang mampu  membagun peradaban Islam yang tinggi, yang mengalahkan  peradaban-peradaban  lainnya  di dunia dalam  rentang waktu yang  sangat  panjang.  Kiprah  nyata  para perempuan yang dimuliakan oleh Islam,  justru  berhasil  berada  diposisi  terbaik  jika  dibandingkan dengan perempuan-perempuan aristokrat  dan  modernis  ala  barat  sepanjang sejarah. Seeing Woman Differently….

Oleh :Nurina  Purnama Sari, Mahasiswi-Citizen Journalist