Agaknya, Gerhana Matahari yang terjadi pada 15 Januari lalu dan tercatat sebagai gerhana matahari terlama di millenium ketiga bukan hanya di rasakan oleh rakyat. ‘Gerhana’ yang sama juga dirasakan di istana. Gerhana kredibilitas kepimpinan presidensial SBY tercatat sebagai yang terlama dalam sejarah kepemimpinannya sejak tahun 2004 dan justru terjadi di tiga bulan pertama masa pemerintahannya.

Sejak bergulirnya skandal Bank Century sampai saat ini, tak pelak lagi kredibilitas SBY mulai menurun perlahan tapi pasti. Ini dibuktikan dari berbagai survey publik yang menunjukkan penurunan popularitas SBY secara signifikan, bahkan persentasenya terlampau jauh jika dibandingkan dengan survey menjelang pemilu 2009.

Keadaan ini justru makin diperparah ketika konstelasi politik nasional kembali geger akibat terbitnya buku “Membongkar Gurita Cikeas” yang di tulis seorang doktor sosiolog sekelas George Junus Aditjondro di paruh ketiga desember. Dan si ‘Gurita’ ini makin menambah kegelisahan istana. Eksistensi dan otoritasi SBY mulai terancam lewat demo anarkis maupun aksi damai yang sudah tidak terhitung jumlahnya.

Ada tiga faktor kunci penyebab kian mendungnya kredibilitas presidensial SBY yang saya catat: Pertama : ditempatkannya orang-orang yang integritas moral dan profesionalitasnya diragukan publik. Sedikitnya, ada Empat pejabat kunci kabinet yang kredibilitasnya dipertanyakan publik. Keempat orang tersebut sebelumnya adalah pemimpin kolektif sebuah yayasan yang menerima sumbangan senilai 1 miliar dollar AS dari seorang buron koruptor. Ironisnya, keempatnya justru masuk cabinet pada posisi kunci pula.

Kedua, Tumpulnya kepekaan pemerintah . Dimana tidak ada prioritas yang memihak rakyat dalam penggunaan uang Negara. Dianggarkannya pembelian mobil super mewah bagi para menteri seharga hampir tiga kali lipat harga mobil dinas kabinet sebelumnya, adalah salah satu contoh ironis di tengah ketidakberesan integritas yang makin menyudutkan. Belum lagi penyediaan pesawat kepresidenan serta renovasi pagar istana menambah daftar panjang ketidakpekaan kabinet yang sedang ‘sakit menahun’. Dan luar biasanya, pengajuan anggaran yang menguras uang Negara ini justru begitu mudah di-golkan. Padahal, jumlah anggaran tersebut setara dengan beribu-ribu sekolah dasar dan puskesmas. Juru Bicara presiden pun membantah bahwa SBY tak tahu menahu dengan pos-pos belanja mewah tersebut. Dan pernyataan ini, justru semakin memendungkan kredibilitas presidensialnya, karena menunjukkan betapa seorang pemimpin Negara setingkat SBY tidak pernah memperhatikan kemana larinya uang rakyat.

Ketiga; makin terkikisnya figur kepemimpinan SBY. Hampir 100 hari terakhir, alih-alih mengambil tanggung jawab sebagai the First Commander Negara ini, Presiden justru tampak ‘lari’ dan terus membantah keterlibatannya dalam Skandal beruntun Bank Century. Padahal, lahirnya kebijakan Century dan terakhir menjadi sebuah kasus adalah atas sepengetahuan SBY. Hal ini dibuktikan dari jawaban-jawaban Boediono dan Sri Mulyani di depan Pansus Century. Dan keterlibatan Marsilam dalam rapat KSSK yang yang terungkap melalui CCTV, adalah bukti bisu yang berbicara ketika integritas presiden dipertanyakan.

Bisa jadi ini adalah sebuah malapetaka bagi istana dan menjadi kiamat bagi sistem yang makin liberal. Namun ini juga merupakan pertanda menjelang terbitnya Kemenangan, Kemenangan bagi umat Islam untuk meneguhkan kembali kepada perubahan yang hakiki dalam bingkai kekhilafahan. Setidaknya, Kita harus membangun kesadaran kolektif dan menyampaikannya kepada umat tentang dua hal dalam menuju perubahan tersebut, Pertama:memvisualisasikan kebobrokan sistem yang kita alami sekarang dimana kita ada di dalamnya. Kedua:.Tidak ada alternatif lain, selain memvisualisasikan Islam sebagai satu-satunya sistem kenegaraan yang paripurna, bersahaja, dan mengayomi rakyat sebagai Hamba Allah yang harus dilindungi.

–Nurina Purnama Sari, Independent Journalist–