Berry, nama  kecilnya.  Bukan black berry  loh… :D  Barrack Husein Obama  nama  lengkapnya.  Sekarang,  sang  pemilik  nama  menjadi  orang nomor  satu  orang di Amerika.

10 Desember lalu  lebih tepatnya  di Taman Menteng  diresmikan  patung Obama kecil.  Tingginya 110 cm dengan berat 30 kg. Di patung itu, Obama kecil mengenakan kaus, bercelana pendek, dan bersepatu kets-gambaran khas bocah umur 10 tahun yang datang dari kelas menengah. Materialnya dari perunggu. Itu sebabnya biaya pembuatannya lumayan mahal, sekitar Rp100 juta.

Katanya, Patung ini ‘diharapkan’ memotivasi kaum muda karena tokoh ini pernah tinggal di Indonesia, serta untuk menginspirasi anak-anak dan guru bahwa pendidikan di Indonesia bisa mencetak seorang presiden yang luar biasa. Mereka yang bangga dengan patung itu, mungkin lupa, Berry hanya mampir. Menteng, Jakarta, hanya ‘kemampiran’. Dia tak berjasa apa-apa bagi Indonesia.

Karena itu, kita juga layak curiga, mereka ini mungkin lupa apa saja yang telah diperbuat Obama terhadap Palestina, bagaimana sikapnya terhadap pembangunan permukiman Yahudi, perang di Afganistan, atau posisinya dalam sidang-sidang World Trade Organization.

Sekali lagi, patung itu sekaligus menunjukkan betapa tak sensitifnya para birokrat pengendali perizinan yang dengan kompleks inferioritasnya memamerkan kenaifan psikotik itu ke ruang publik. Betapa menyedihkannya.

Seperti menjadi oase di tengah ketidakberesan   sikap proxy imperialis Amerika. Ini lebih menjadi – jadi buat negeri kita. Semua membicarakan Obama sebagai orang yang menjadi pengayuh bahtera hubungan yang lebih indah antara Indonesia dan Amerika.  Apalagi  sejak  adanya  rencana  Berry  akan  berkunjung  ke Indonesia.

Anda  boleh mengatakan saya sinis atau apapun, toh saya tidak sependapat dengan suara kebanyakan itu.  Mengapa? Ya mengapa tidak. Bukankah kita kenyang dengan pengalaman yang terus – menerus menunjukkan betapa para politisi juga  terus – menerus mengecewakan kita.Itu  baru yang ada didalam negeri, Alih – alih lagi yang jelas – jelas tidak punya ikatan apa – apa dengan Ibu Pertiwi, contohnya  seperti Mas Berry ini.

Oh..ya. Ada  dink 😀 ! Secara  historis  Pernah  bersekolah di SD Besuki, pernah tinggal di Menteng dan pernah punya ayah tiri orang bumiputra! Terus memang kenapa kalau itu jadi fakta historis Berry? Toh di masa ia tinggal di Indonesia, usianya masih sangat belia, masih sangat bocah. Paradigma dan sensitifitasnya terhadap negeri ini belum terbentuk dan sangat mungkin tidak memberikan kontribusi apa – apa terhadap cara berpikirnya, sikap politiknya dan cara memandangnya ke negeri yang ada dipunggung lain bumi dari tempatnya tinggal sekarang. Lia, teman sekaligus pengasuh Berry waktu ia kecil juga mengatakan sang Ibu sangat – sangat protektif dan tidak mengijinkan putranya ini keleleran main keluar rumah. Interaksinya dengan inlander ya hanya di SD Besuki itu. Jadi apa yang kita bisa harapkan dari Bung Berry ?

Maafkan saya kawan.  Tapi saya khawatir, jangan – jangan sindrom yang kita alami tak lebih dari wujud inferioritas kita sebagai bangsa yang bolak – balik diperkosa hak merdekanya. Dari  Belanda  hingga Jepang,  Dari  Soeharto  sampai  SBY  telah membuat bangsa ini tidak yakin dengan kemampuannya sendiri, dan selalu berharap ada bintang jatuh yang kemudian bisa mengejawantahkan mimpi kesejahteraan mereka.

Pertanyaannya, Apakah setelah Obama,  Freeport akan lebih bijak membagi jatah yang lebih banyak buat anak – anak Papua? Ini yang sederhana saja. Adakah kampanye global yang mendekatkan Islam dengan Terorisme akan berhenti. Akankah Guantanamo akan ditutup dan jadi Islamic Center atau Dufan saja lah, misalnya 😀 (**khayalan tingkat tinggi  mode on **)  . Akankah stereotyping yang sampai kini berlaku untuk Islam  atau nama berbau syariah akan berhenti?

Apalagi  yang  masih berharap  mendamaikan  Islam dengan  barat  lewat  tangan Mas Berry? Ow..ow… Tidak  tahukah  anda,  Dalam  buku  yang  ia  tulis  sendiri  berjudul  “The  Audacity  of  Hope”,  pada  bab 1, jelas-jelas  si Berry  punya  pandangan sinis  terhadap  kata  syariah  dan  islam.  Cenderung  berkonotosi  negatif  sehingga  Berry  pun kerapkali  menggunakan kata  militan  dan Fundamentalis  dan menyematkannya pada  kata  Islam.

Ya… kita hanya bilang lihat saja nanti. Mudah – mudahan saya salah. Tapi tak ada salahnya untuk tidak terlalu berharap banyak dari Mas Berry ini kan?

==Nurina  Purnama Sari, Mahasiswi,Jurnalis==