Mereka,  orang-orang  yang  sedang  di sorot  publik, sibuk  mengklarifikasi  kesana-kemari.  Mereka,orang-orang  yang  dicatut  namanya  karena  dugaan  keterlibatan  dalam sebuah skenario  rumit   perampokan  uang Negara.  Tidak  tanggung-tanggung, besar  rupiah yang  di rampok  itu  cukup  untuk  membayar   utang  Indonesia  plus  dengan bunganya.

Mereka  beradu  argumentasi.  Begitu mudah mengucapkan sumpah di bawah   kitab suci.  Tak  lupa  menyelipkan  istighfar  berkali-kali.  Lafal  ‘istighfar’  pun seolah-olah  kehilangan  esensi .

Sudah  banyak  indikasi  yang menunjukkan  bahwa  keterlibatan   mereka  terbukti.  Bahkan   bisa  jadi  menyusul  nama baru  yang  termasuk  daftar  pembesar  negeri.  Mereka  pintar  sekali.  Berkilah  bahwa  ini  demi  menyelamatkan  ekonomi  negeri.  Negeri  para  bedebah  yang   di duduki  cukong kapitalis  nan  korup.

Inilah  tabir  kebobrokan  sistem  yang  kian  terbongkar.  Seorang  nenek  yang  mencuri  tiga buah  kakao,  atau  seorang bapak yang mencuri  sebuah  semangka  demi  menyambung  setapak hidup, mampu  di jebloskan kepenjara.  Berbanding  terbalik  jika  yang  di rampok  adalah uang Negara,  begitu  licin  untuk  di buktikan.  Begitu  bukti  didapatkan,  para  penegak  hukum  justru  begitu  sulit  mengadili  mereka.

Sistem  yang  dianut  negeri  ini begitu  nista.  Peradilan  begitu  cepat  dan tangkas  menjerat  kaum  yang  lemah.  Sebaliknya,  hukum  tiba-tiba  menjadi  rumit  dan  berbelit-belit  ketika  diberlakukan  terhadap  para penjahat  berdasi.  Gerakan penegak  hukum  pun terasa  begitu  lamban.

Di  sinilah  letak  ketidakadilan.  Sang  Terpidana  kasus  Bank  Century  divonis  ‘hanya’ 4 tahun  bersamaan  ketika  seorang  nenek  yg mengambil  Kakao  dan duduk  di kursi  terdakwa   di hukum 1,5 bulan  dengan  harga Kakao  sekitar  Rp.2000,- .

Seharusnya…hal  yang  sama  harus  diberlakukan kepada  Sang  Terpidana  kasus  Bank  Century  yang  telah  menggarong  dana  sebesar  Rp.363,3 Miliar. 

Seharusnya… vonis  kurungannya  bukan  4 tahun penjara,  melainkan  406,46  juta  bulan  atau  sekitar  33,87  tahun  jika dihitung secara  matematis  dengan  nenek  yang  mengambil  Kakao  sebagai pembandingnya.

Di sinilah  letak ketidakadilan. Para  penjahat berdasi  bisa menikmati  fasilitas  penjara  sesuai  keinginannya.  Bahkan  bisa  menerima  pengampunan  dan  akhirnya  malah  bisa  menginjakkan  kaki  di Istana  Negara  sekaligus  bersalaman  dengan  Presiden.  Padahal  mereka adalah  pengemplang  dana  Bantuan  Likuiditas  Bank Indonesia (BLBI)  yang  jumlahnya  trilyunan.

Kalau  begitu  siapa  mereka?  Mereka  adalah  para  kapitalis  yang  berkolaborasi  apik  dengan para  penguasa  negeri.  Jika  sebelumnya  ada  Skandal  Bank  Bali  menyusul  skandal  BLBI, kini  ada  Skandal  Century.  Ketiganya  merupakan siklus  yang  terjadi  akibat  diterapkannya  sistem  ekonomi  kapitalis  di bawah  sistem  politik  demokrasi.  Inilah  salah satu  bentuk  ‘simbiosis  mutualise’  yang  berlaku  saat  ini.  Penguasa  butuh  dana  kampanye  untuk  meraih kekuasaan,  Sedangkan  para  kapitalis  butuh  regulasi  dan  hak-hak  istimewa  untuk  memuluskan  bisnisnya. Balik  modal  adalah  prioritas  pertama  yang  mereka  pikirkan  ketika  tampuk  kekuasaan  berhasil  diduduki.  Hal  serupa  juga terjadi  dibelahan  bumi  manapun  di Negara  yang  menerapkan  sistem  kapitalisme  demokrasi.  Penguasa  untung. Rakyat  merugi.

Kemelut  ini  tidak  boleh  dibiarkan  terjadi  terus menerus.  Sudah  cukup  mereka  meletakkan  benih-benih  ketidakdilan  yang  kelak  memeras  darah rakyat.  Kita  butuh  keadilan, Keadilan  hanya  bisa  terealisasi  jika  yang diterapkan adalah Islam  sebagai  aturannya  di bawah  Khilafah Islam. Karena  dalam Khilafah, penguasa  tidak  membutuhkan  dana-dana  untuk kampanye  agar  rakyat  memilih  dirinya  sebagai  pemimpin.  Namun  rakyatlah  yang  akan  diedukasi  oleh  Islam  agar  cerdas  memilih  pemimpin  yang  amanah.

–Nurina  Purnama  Sari–