Bus Damri  itu  terlalu  sesak  buat  saya.  Didalamnya berisi   terlalu  banyak  eskpresi  ketidakpastian  dalam  berbagai  struktur muka.  Kesemuanya, dari  pekerja kantoran, anak sekolah, ibu rumah tangga, bapak-bapak pencari kerja, kakek-kakek  tua,dan anak ingusan pembawa kabaret.  Dengan  berbagai  macam  properties  yang  mereka  bawa.  Ransel, tas pinggang, bawaan  belanja, hingga  gitar  tua.  Kalau  anda  ingin  melihat  miniatur  negeri  kita,  sering-seringlah  ber-damri-ria. Mungkin  sekali-sekali,  presiden  dan  para  abdi dalemnya  perlu  mengganti  transport  mewah mereka  dengan kendaraan  umum  berjiwa  rakyat.  Supaya  lebih merakyat,  dan dapat  merasakan,  beginilah  hasil  negeri  yang ia  pimpin.

Mungkin  para  pemimpin  melihat  rakyat  dari kacamata  kuda.  Begitu  dilihat  grafik  kemiskinan  menurun  lewat  perhitungan  yang dipukul rata,  akhirnya  mereka  menganggap  kabinet  tempat  mereka  berkubang  membawa  setitik  noktah  kesuksesan.  Padahal,  itu  hanyalah  perhitungan  bruto,  perhitungan  yang  tidak  memihak  rakyat  menengah ke bawah.  Perhitungan  yang  menandakan  bahwa  kekayaan  hanya   berpusar  pada  orang-orang  kaya.

Ternyata  cara  pandang  kita  terlalu  prematur  memandang  sebuah problema.  Hingga  memproduksi  solusi-solusi  yang  prematur  pula.  Ketidakmatangan disana-sini  yang  saling  tambal  menambal, menjadikan  rakyat  menjadi  korban  pertama  yang  selalu  empuk  namun  lapuk  termakan  ketidakberdayaan  menghadapi  dilema hidup.  Mungkin seperti  inilah paham  yang  dianut  elit negeri.

Tetapi  biasanya, para  wakil rakyat  dan  elit  politik   adalah  cermin  rakyatnya  sendiri.  Rakyat  yang  berinisial  oknum.  Ketika  rakyatnya  menjadi  penjahat,  maka  seperti  itulah  wakil rakyatnya.  Ketika  rakyatnya  berbuat  maksiat,  seperti  itulah  wakil rakyatnya.  Ketika  rakyatnya  tukang selingkuh,  tukang korupsi, tukang  mengadili  yang  tidak  adil, tukang  mengurangi  timbangan,  dan tukang  mencuri  yang  bukan haknya,  maka  seperti  itulah  wakil rakyatnya.  Intinya,  wakil rakyat  adalah  cerminan  simpulitas  mayoritas  rakyatnya.

Kalau  dulu,  ada  satu  Musa  untuk  satu  Firaun  dan  satu  Samiri.  Kalau dulu,  ada  satu  Isa  untuk  satu  Judas  dan  satu  Herodes.  Tetapi  hari  ini,  ratusan Judas, Samiri,  dan Firaun  berkeliaran  menjual  aset  bangsa  yang  dilindungi  konstitusi,  yang  bekerjasama  dengan  penadah  dan  penjarah  asing.

Padahal   mayoritas  kita  beridentitas  muslim  dan  memenuhi  daftar  kartu penduduk.  Tetapi  kenapa  kekacauan  justru  terjadi  di zaman  dimana kita—muslim—menjadi  penduduk  bumi terbanyak? Berarti  benar,  apa  yang dikatakan   Rasulullah,  bahwa  kita  telah  berada  pada  suatu masa  dimana  muslim  seperti  buih dilautan, berjumlah banyak, namun tak bisa  berbuat apa-apa.  Apa yang salah?

Bukan  salah  ajaran  agamanya.  Wahyu  dan  ajaran  kenabian  tetaplah  cahaya.  Hanya  manusia  sajalah  yang  terlalu  dungu,  disesatkan  oleh  hawa  nafsu,  padahal  didepannya  ada  cahaya sejelas-jelasnya.

Tetapi  bukan  berarti  cahaya  Islam  tidak  pernah  berjaya.  Ada  zaman  keemasan di masa  kekhalifahan  islam  saat  anak-anak Baghdad, Kufah,  dan  Cordova bereksperimen  dengan  teropong  bintang cangggih  pada  masanya,  kota  bermandi  cahaya  saat  magrib  tiba.  Dan  musabaqah  matematika  yang digelar  di usia-usia  belia. Tepat  disaat  yang  sama  Paris dan  London  masih  rawa-rawa  dan hutan  belukar  yang  gelap  gulita,

Sudah  datang  masanya, pemikiran  anak-anak  kita  kelak  tidak  berkubang  pada  keprematuran semata.  Saatnya  berbenah.   Saat  dimana  generasi  muslim   memahatkan  dalam hati  nurani  mereka  bahwa  ada  logika  kepastian  yang  sudah  digariskan Allah kepada  manusia  tentang  hakikat  hidup  ini  untuk  apa, dari mana,  dan akan kemana.  Karena  tak ada  nyawa  cadangan dan tak  ada  umur reserve. Pertarungan  sesudah  hari-hari  ini  adalah  hidup  atau  mati.  Hidup  hina  tanpa  akidah  atau  mati  mulia  dalam kekhusnul-khatimahan.

Namun,  jika  masih  saja  ada  orang-orang  yang   berhati  batu  dan  masih  berpikiran  prematur  dengan  menafikkan  cahaya  Allah,  membunuh  suara  hatinya  sendiri—padahal  syariat  Allah  ciptakan sesuai  fitrah manusia–,  maka  orang-orang  seperti  itu  hanya  menganggap kematian  hanya  berlaku  atas  orang  lain. Orang-orang  seperti  itu  harus  kerap  diajak  menurunkan  jenazah keliang lahat,  melepas  kerabat  diakhir nafas,  atau  berbiduk  dilautan  dengan gelombang  yang sangat ganas.  Bila  masih tak mempan,  Wallahi, takbirkan  empat  kali  bagi  kematian hati nuraninya  sebagai  manusia.

==Nurina Purnama  Sari, Mahasiswi-Jurnalis==