Disleksia.  Kata  itu  dalam beberapa  tahun  silam  sangat  sulit  saya  eja.  Bahkan  guru  agama  saya  sering  memberikan nilai  merah kepada  saya    sewaktu  mengerjakan   soal  ujian ,karena  saya  kerapkali   salah  menempatkan  posisi  huruf  dengan benar.  Kata   ‘saw’  malah  saya  tulis  menjadi  ‘was’.  Sehingga  ketika  menulis kata  Rasulullah  saw,  saya  malah membalikkan  posisi  hurufnya.

Disleksia.  Adalah  sebuah    gejala yang  menunjukkan  kesulitan  dalam  membaca, mengeja,  dan  menyebutkan  suatu  huruf  atau  kata  atau  kalimat.  Hal  ini  terjadi  karena  adanya  perbedaan  cara  otak  berfungsi   dalam  menghubungkan  simbol  visual  dan bunyi.

Tapi  saya  bukan hendak  membicarakan  gejala  disleksia  yang  pernah  saya  alami.  Ketika  disleksia  di tandakan  sebagai  kesulitan  dalam mengeja, menulis, dan menyebutkannya,  atau  ada  ketidaksesuaian  antara  visualisasi  dengan  auditori,   Saya  hendak  menyamakan  gejala  ini  sebagai  sebuah epidemi  yang  melanda  negeri.   Maka  yang  menjadi  pertanyaan  dalam benak,  apakah  negeri  ini  sedang  mengalami  Disleksia?

Kerapkali,  kita  melihat  banyak  fakta terpampang dihadapan kita.  Semakin  banyak  orang-orang  yang  diamanahkan  untuk mengurusi  urusan  umat,  tetapi  melalaikannya.

Kerapkali,  kita  menyampaikan  aspirasi.  Meminta  agar  pemerintah  menunaikan hak-hak kita.  Tapi  apa yang  terjadi?  Rupa-rupanya mereka  kesulitan  mengeja  apa  yang  rakyat tulis, rakyat  sampaikan, bahkan  yang  rakyat  teriakkan sekalipun  dengan pengeras suara.  Atau  mungkin  mereka  bisa  dengan mudah mengeja,  tetapi  sulit  menjalankannya.  Ketika  aspirasi  rakyat  dilaksanakan pun, masih  dengan  terbata-bata,  setengah hati  dan tak pernah  mengira-ngira  sudah sejauh  apa  suksesinya.

Terlalu  banyak  pejabat  yang  sudah  menjaga  jarak  dengan rakyat.  Mereka  membentuk  frame  tersendiri,  bahwa  “Kita  Beda”. Saking  nyamannya  mobil-mobil  mereka,  lubang menganga di jalan  yang  membahayakan  pun  tak  terasa .Mobil-mobil  mewah  kedap  suara  bising  jalanan, dengan  kaca-kaca  hitam,  menjadikan mereka  tidak  bisa  melihat  dan  mendengar kesulitan  apa  yang  dialami  rakyat  pada  saat  itu.  .  Tidak  bisa  melihat  apa  yang terjadi  pada  rakyatnya. Bencanakah? Kesusahankah? Kelaparankah?  Mungkin  mereka  bisa  berkilah  kalau  kaca-kaca  mobil  mereka  tertutupi debu jalanan,  tetapi  lebih tak mungkin  lagi  karena  justru  mobil-mobil  itu  mendapat  anggaran  perawatan  gratis  apalagi  hanya  sekedar  untuk  mengelap  kaca,  agar  mereka  bisa  memalingkan kepala  dan melihat apa yang terjadi dengan rakyatnya.  Syukur-syukur  kalau  mereka  mau  membuka kaca  mobilnya, melongokkan  kepala,  lalu  turun  untuk mendengarkan dan memberi bala bantuan  yang memang  sudah seharusnya.

Ketika  kesusahan rakyat  masih belum bisa  dieja oleh pikiran dan perasaan  birokrat, akhirnya membuat rakyat  turun berbondong-bondong ke Senayan  atau  ke Merdeka, atau  gedung-gedung  DPRD  tempat  para wakil rakyat bersinggasana. Mereka  bawa  poster-poster  besar  berisi  tulisan  seadanya  dengan harapan  agar  para  pejabat  tidak  kesulitan mengeja.  Mereka  bawa  pengeras  suara  dengan  harapan agar para  pejabat  tidak kesulitan mendengarkan.  Terlalu  banyak yang mereka korbankan.  Tetapi,  mungkin  dinding-dinding  di gedung-gedung  tempat  mereka  bekerja  terlalu  tebal  sehingga  memantulkan suara-suara  rakyat.  Mungkin  juga  suhu ruangan  di dalam  terlalu  sejuk  sehingga  mereka  malas  keluar  walaupun  sekedar  untuk  mengeja  aspirasi  di  poster-poster  buruk  nan  lusuh  bawaan  rakyat.

Berarti  apa  yang  terjadi  dengan elit politik kita? , Para  pemimpin negeri  dengan posisi  terpenting  yang seharusnya  menyejahterakan  rakyatnya.  Bisa  jadi  mereka  mengidap  Disleksia  seperti saya.  Bahkan  lebih  parah,  hati  dan nurani  mereka  terkunci  mungkin  karena  ‘Disleksia’  yang  mereka  buat  sendiri.

Ternyata memang perubahan masih sulit lahir dengan mencemplungkan diri ke kubangan politik  yang  makin tidak  waras. Terlalu banyak kisah  para idealis negeri ini yang tak berdaya di kancah politik, bukannya membawa perubahan, tetapi malah ikut terbawa arus.  Memalukan. Bahkan  memilukan.

Saya  tidak  sedang  ingin  menjudge orang  perseorang  atau  profesi  tertentu.  Karena  protes-protes  kecil  ini  tidak akan  pernah  diakomodir  bahkan  cenderung  di cemooh  sebagai  orang-orang  yang  bersikap  apatis. Tapi  semoga saya-dan anda yang membaca  tulisan ini– adalah  orang -orang  yang  masih memiliki  prioritas  untuk  melakukan  perubahan dan bergerak  dengan  hati  nurani.

Kita  perlu  bergerak.  Gerakan massa yang saya maksud adalah gerakan massa rakyat yang cerdas, bukan lagi perang kata-kata, apalagi perang anarkis dengan senjata dan gas air mata.  Kali ini perang dengan pemikiran (mindset). Dan  ini  pasti  terjadi.

Kita  perlu  amunisi  ideologis. Sikap elit kita harus terus kita  paparkan  secara  jelas  dan faktual,  kemudian kita  sosialisasikan solusinya  secara luas. Ini adalah materi pelajaran yang superberharga untuk mencerdaskan pembacaan politik rakyat. Pada akhirnya, bukan senjata, bukan kata-kata lewat demo, tetapi aura dari pemikiran rakyat yang getarannya lebih tinggi dari pikiran rendahan elit kita akan menyapu kesekuleran  sistem  dan  kroni-kroninya  bak gelombang tsunami.

Pergolakan  itu  akan datang. Dan sulit  terpatahkan.  Amunisi  itu  yang harus  kita  siapkan dari  sekarang,  yaitu  pemahaman Islam.  Dan bergeraklah   dengan  Islam.  Sekalipun  anda  mengidap  Disleksia,  tapi  jangan  biarkan ia  menyentuh ranah  aqidah,yang  membuat  anda  Disleksia  terhadap  Islam  sebagai  pewaris  semesta alam.

==Nurina  Purnama Sari, Mahasiswi, Jurnalis==